Marketing Strategy

Coca Cola Profit Naik 55%

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,17/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Rabu, 10 Februari 2010 08:17

Raksasa minuman AS Coca-Cola pada Selasa waktu setempat mengatakan laba bersihnya melonjak 55% pada kuartal keempat, terdongkrak oleh pertumbuhan volume penjualan di China, India dan negara pasar berkembang utama lainnya.

Pembuat minuman ringan terkemuka di dunia itu melaporkan laba bersihnya US$1,54 miliar dalam kuartal terakhir 2009, sejalan dengan ekspektasi pasar.

Perusahaan mengambil biaya bersih kuartalan sebesar 21 sen per saham untuk restrukturisasi tagihan dan biaya terkait dengan inisiatif produktivitas global. Laba setahun penuh US$6,82 miliar menandai kenaikan 18% dari tahun sebelumnya.

Laba bersih per saham kuartalan adalah 66 sen, sedikit di bawah proyeksi sebagian besar analis 67 sen. Untuk setahun penuh, laba bersih per saham adalah US$2,93.

Pendapatan pada kuartal keempat US$7,51 miliar, naik 5,0% dari periode yang sama tahun sebelumnya, terutama disebabkan oleh peningkatan volume penjualan.

Perusahaan yang memiliki lebih dari 500 merek terkenal itu melaporkan pendapatan setahun penuh telah turun 3,0% menjadi US$30,99 miliar.

Sementara volume penjualan unit Amerika Utara tergelincir 1,0% di kuartal keempat, "Terutama karena tekanan makroekonomi yang berdampak pada pengeluaran konsumen dan jasa lalu-lintas makanan." Pihak Coca-Cola mengatakan volume internasional naik 6,0%.

Pertumbuhan Coca-Cola di pasar negara berkembang seperti India dan China cukup membantu  saat ekonomi yang masih lemah AS, yang perlahan-lahan pulih dari resesi terburuk dalam beberapa dasawarsa.

Pada kuartal keempat itu, pertumbuhan volume mencatat kenaikan kuat di emerging market utama. Volume meroket 29% di China, 20% di India dan 8,0% di Brasil. Prancis memimpin pasar negara maju dengan 12% peningkatan volume.

Muhtar Kent, ketua dan kepala eksekutif, menyatakan Coca-Cola "mengakhiri tahun ini dengan sebuah catatan tinggi, memberikan kenaikan volume global dan nilai saham, sebanding pertumbuhan pendapatan mata uang netral, peningkatan produktivitas dan peningkatan aliran kas."

 

Sumber: Bisnis.com

 

Peta Bisnis Airline di Indonesia

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,17/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Jumat, 05 Februari 2010 17:42
Berarti, pertumbuhan pasar penerbangan domestik di Indonesia sejak tahun 2000 adalah 18%, 27%, 38%, dan mencapai puncaknya 44% pada 2003, kemudian menurun ke 7% tahun berikutnya. Angka-angka pertumbuhan pasar penerbangan domestik ini terungkap dalam riset Marketing Research Indonesia (MRI) bertajuk Konsumen dan Pasar Jasa Penerbangan Dalam Negeri. Dengan mempertimbangkan pengembangan di seluruh wilayah Indonesia dan persaingan harga yang terus terjadi, MRI memperkirakan dalam lima tahun mendatang rata-rata pertumbuhan arus penumpang domestik masih bisa mencapai 15%.

Arus penumpang di atas dihitung dari 204 bandara yang tersebar dan beroperasi di seluruh Indonesia. Dari semua bandara itu, Soekarno-Hatta adalah yang terbesar dan memiliki pangsa 31%. Pertumbuhan arus penumpang di bandara ini juga luar biasa, terakhir mencapai 52% pada 2003, tapi kemudian stagnan (naik1%). Bandara tersibuk berikutnya adalah Juanda (Surabaya) dan Ngurah Rai (Denpasar).

Jika di tahun 1999 Indonesia baru mempunyai lima perusahaan penerbangan, saat ini terdapat 25 perusahaan penerbangan dengan jadwal reguler. Bahkan pemerintah sudah memberikan izin kepada 37 perusahaan penerbangan. Perusahaan penerbangan yang tergabung dalam INACA (Asosiasi Perusahaan Penerbangan Sipil Nasional) berjumlah 17, dan jumlah penumpang domestik yang mereka layani sebanyak 26 juta yang dilayani oleh 14 perusahaan. Garuda masih menjadi pemimpin pasar di industri penerbangan dalam negeri dengan pangsa 24%. Namun, pemain baru Lion Air menjadi penantang yang luar biasa (23%), disusul Merpati (11%), dan Mandala (11%). Berbagai maskapai penerbangan lain memiliki sekitar sepertiga pasar.

Menurut hasil survei MRI, di antara 529 penumpang dari Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan dan Makassar pada Maret-Juni 2005 menunjukkan Garuda masih merupakan merek yang paling diingat (top of mind) sebesar 38%, disusul Lion Air (22%), Mandala (9%), Merpati (7%) dan Batavia Air (7%). Dari survei itu diperoleh pangsa merek (brand share) Garuda sebesar 28% dan disusul Lion Air (23%). Membandingkan Garuda dan Lion sungguh menarik. Garuda dipilih konsumen lebih karena alasan pelayanan, kenyamanan, rasa aman, merek dan ketersediaan rute. Sebaliknya, Lion Air dipilih oleh konsumennya lebih karena faktor harga, ketepatan waktu dan akses memperoleh tiket.

Sebagai merek yang paling lama berkiprah di Indonesia, Garuda memang memiliki asosiasi merek yang paling kuat. Lion Air belum bisa mengimbangi Garuda dalam hal ini, kecuali dalam aspek atribut harga tiket yang murah. Namun sebagai pendatang yang relatif baru, Lion Air patut diacungi jempol. Merek ini mengalahkan pemain lama lain seperti Mandala, Merpati dan Bouraq, serta pemain baru seperti Batavia, Adam dan Citilink.

Di benak penumpang, maskapai penerbangan terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu pemain lama seperti Garuda, Merpati, dan Mandala; serta pemain baru seperti Lion Air, Jatayu, Adam Air, dan Batavia Air. Pemain lama memiliki citra dapat dipercaya, lebih prestisius, dan merek yang direkomendasi. Sementara pemain baru terutama dicirikan oleh harganya yang murah. Pemain baru, khususnya Batavia Air, juga dipersepsikan banyak beriklan dan berpromosi.

Melihat kecenderungan pertumbuhan arus penumpang penerbangan dalam negeri yang mulai menurun, industri penerbangan perlu memberikan rangsangan jika ingin pasar ini terus berkembang. Peluang pertumbuhan ini ada mengingat makin berkembangnya ekonomi daerah yang dipicu oleh otonomi daerah, dan adanya perubahan pada konsumen yang semakin sadar waktu. Pemerintah harus hati-hati dengan penetapan tarif dasar, karena faktor harga sangat menentukan pertumbuhan industri.

Mengingat tren pasar yang melemah, masing-masing pemain jelas harus semakin tajam dalam menetapkan segmen pasar dan positioning-nya. Beberapa kebutuhan konsumen utama yang teridentifikasi melalui penelitian ini harus digarap betul oleh para pemain, yaitu faktor keselamatan, harga, kondisi pesawat prima, ketepatan waktu, jadwal, kemudahan dan pelayanan membeli tiket, serta awak kabin yang ramah.
 

Bagaimana Meningkatkan Penjualan Apotek Anda?

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,17/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Jumat, 05 Februari 2010 17:39

Saya memiliki usaha apotik yang sudah berjalan hampir 5 tahun. Selama ini omzet penjualan ya hanya segitu-gitu saja. Saya juga sudah menerapkan strategi sebagai berikut : harga murah, free konsultasi, good service. Yang ingin saya tanyakan bagaimana meningkatkan omzet penjualan? Sekedar informasi, di kota kami ada 1 apotik yang terkenal murah, setiap konsumen selalu membandingkan harga. Intinya, meski saya memberikan harga yang sama dengan apotik tersebut tetap saja tidak bisa mendongrak omzet penjualan kami. Demikian terima kasih.

Ita Andajani

Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya


Jawaban


Yth Ibu Ita,

Terima kasih atas emailnya dan senang dengan usaha ibu di bidang apotek yang ikut menyehatkan masyarakat. Saya akan coba berikan solusinya atas masalah penjualan. Pada dasarnya, omzet penjualan bisa meningkat kalau (1) jumlah pembeli baru bertambah, (2) pelanggan membeli lebih banyak dan (3) pelanggan kita setia, tidak pindah ke pesaing.

Kita bahas satu per satu.

 

Pertama, tingkatkan jumlah pembeli baru yang belum pernah membeli ke apotek bu Ita. Alasan mereka tidak membeli bisa macam-macam, misalnya belum mengenal apotek Anda sehingga tahunya apotek pesaing, lokasi apotek Anda mungkin jauh, atau karena tawarannya selama ini tidak menarik. Untuk itu coba dicek, apakah apotek bu Ita sudah memasang spanduk dan papan nama yang jelas menunjukkan identitas sebagai apotek yang terpercaya. Karena apotek sudah berdiri 5 tahun, mestinya sudah cukup dikenal. Untuk itu coba lakukan pembaruan sehingga apoteknya tampak lebih segar (fresh). Perbarui spanduk atau tampilan luar apotek yang sudah usang dengan cat yang baru. Kemudian rutin tiap 1-2 bulan menyebar brosur ke perumahan di sekitar apotek, supaya mereka ingat kembali atau jadi mengetahuinya. Kalau lokasi apotek Anda kurang menguntungkan, tawarkan layanan antar sehingga orang tinggal order lewat telepon. Perlu diingat orang sakit susah bepergian jadi layanan antar sangat berguna.

 

Bu Ita menyampaikan kalau harga sudah murah atau sama dengan pesaing. Untuk itu perlu diberikan layanan yang merupakan nilai lebih. LAYANAN merupakan salah satu kunci kesuksesan di bisnis ritel. Untuk layanan, Ibu Ita juga mengatakan sudah memberi good service dan free konsultasi. Coba dicek lagi apakah layanan berikut sudah diberikan: pramuniaga melayani pembeli dengan ramah dan akrab. Ini bisa dilakukan dengan selalu menyambut ramah begitu pembeli datang dan mengucapkan terima kasih serta ucapan semoga cepat sembuh kalau selesai transaksi. Berikan perhatian personal. Intinya ciptakan layanan yang berkesan sehingga pembeli senang. Layanan lain adalah cepat tanggap sehingga pelanggan tidak menunggu lama, jaminan keaslian produk, layanan antar, layanan konsultasi dengan SMS, layanan pemesanan obat dengan telepon, dll. Selain itu yang penting juga adalah jam buka apotek. Ingat, kebutuhan obat seringkali mendadak dan bisa muncul kapanpun. Kalau mungkin usahakan jam buka apotek diperpanjang atau bahkan buka 24 jam (perlu perhitungan matang untuk operasionalnya).

 

Usahakan pula apotek tidak pernah menolak pembeli karena stok habis. Tujuannya supaya pelanggan tidak sempat mencoba ke apotek lain (pelanggan pada dasarnya suka beli di tempat yang biasanya, namun kalau tidak tersedia, ini membuka peluang mencoba ke apotek lain dan bisa keterusan untuk pindah). Untuk itu kalau ada pelanggan datang dan stok obat habis, coba usahakan bisa memenuhinya dan menawarkan untuk mengantarkan beberapa jam kemudian. Layanan yang luarbiasa bagusnya akan membuat pembeli berkesan dan mengajak relasi-relasinya membeli ke kita. Apalagi di kota kecil, peranan komunikasi dari mulut ke mulut sangat besar pengaruhnya.

 

Pembeli baru juga cepat bertambah kalau apotek bu Ita menjalin kerjasama atau networking dengan dokter yang ternama. Contohnya menyediakan ruangan praktek dokter di apotek Anda. Jadinya pasien yang selesai berobat akan membeli obatnya di apotek Anda.

 

Kedua, omzet meningkat kalau pelanggan membeli lebih banyak. Pelanggan yang sudah membeli obat misalnya, jangan lupa ditawari produk pelengkap. Misalnya ditawari beli juga vitaminnya, bantal penghangat, dll. Atau mungkin ada semacam pembelian paket. Ini bertujuan untuk memperbesar volume pembelian per pelanggan.

 

Ketiga, supaya omzet terus naik, kita perlu mempertahankan pelanggan. Caranya dengan menawarkan kartu keanggotaan (membership) pada pelanggan. Melalui kartu keanggotaan, kita dapat kumpulkan database pelanggan. Lalu kita rutin membina hubungan misal dengan mengirim SMS, menginformasikan dan memberi perlakuan spesial. Kalau membeli lagi dengan kartu anggota ada harga khusus atau poin hadiah sehingga mereka kembali lagi. Bahkan kartu boleh dipindahtangankan dalam satu keluarga sehingga memacu semuanya membeli di apotek Anda.

 

Demikian solusinya, silakan dicek kembali poin-poin di atas. Semoga apoteknya laris manis setelah melakukan strategi tersebut.

 

Salam bisnis dari Istijanto Oei, konsultan marketing di Prasetiya Mulya Business School.

Sumber: www.swa.co.id

 

Pemasaran Industri Kopi Susu

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,17/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Selasa, 19 Januari 2010 02:06

Lima tahun terakhir, pasar kopi susu sungguh legit: perkembangannya sangat pesat. Seperti pepatah “ada gula ada semut”, persaingan di kategori ini pun menjadi lebih sengit. Upaya apa saja yang dilakukan pemain di kategori yang masih menyimpan potensi pasar lebih besar ketimbang kopi hitam ini?

Budaya minum kopi sudah tumbuh dan berkembang di Indonesia sejak dulu. Kopi (atau teh), seperti menjadi hidangan wajib untuk menemani sarapan pagi sebagian besar masyarakat negeri ini. Di luar waktu itu, kopi (atau teh) juga menjadi minuman selingan yang belum tergantikan yang lain.

Tingginya tingkat konsumsi kopi di Indonesia membuat pasar produk kopi juga terus tumbuh dari tahun ke tahun. Jenis produk minuman kopi yang beredar pun terus bertambah. Sebelumnya hanya ada kopi tubruk (kopi hitam), belakangan jenis produk minuman kopi sangat beraneka ragam, mulai dari kopi instan (tanpa ampas) sampai kopi yang ditambahi aneka rasa.

Salah satu jenis produk minuman kopi yang pasarnya berkembang sangat pesat adalah kopi susu. "Secara volume pertumbuhannya mencapai 5%-9% per tahun. Itu cukup signifikan," ujar Yadi Budhi Setiawan, pengamat pemasaran dari Force One. Pertumbuhan pasar kopi susu memang lebih besar daripada kopi hitam yang pasarnya telah sangat besar. “Persentasenya memang lebih besar, tapi volume kopi hitam masih jauh lebih besar,” ujarnya.

Pernyataan Yadi dibenarkan Jahja B. Soenarjo, Chief Consulting Officer Direxion. Karakteristik konsumen kopi susu, dikatakan Jahja, berbeda dari kopi hitam. “Penggemar kopi hitam biasanya lebih senior dan menyukai rasa kopi yang lebih keras,” katanya. Peminum kopi hitam, menurutnya, adalah konsumen yang fanatik. Adapun peminum kopi susu lebih banyak berasal dari generasi yang lebih muda.

Berdasar pada asumsi tersebut, Jahja menyangsikan adanya perpindahan konsumen dari kopi hitam ke kopi susu. “Penggemar kopi hitam mementingkan citarasa. Mereka juga merupakan penggemar yang fanatik. Perpindahannya tidak semudah itu.”

Sejauh ini, pasar kopi susu masih didominasi pemain-pemain yang sebelumnya sudah eksis di pasar kopi hitam. Dan seperti halnya di kategori kopi hitam, grup Kapal Api pun masih menjadi pemimpin di kategori ini. Lewat dua merek besutannya, Kapal Api Susu dan ABC Susu, grup perusahaan asal Surabaya ini masih mendominasi pasar.

Posisi grup Kapal Api ditempel ketat oleh PT Mayora Indah Tbk. lewat merek andalannya, Torabika. Tak tanggung-tanggung, Mayora mengepung pasar kategori ini dengan 8 varian sekaligus, yaitu Torabika Duo, Torabika Oke, Torabika Susu Full Cream, Torabika Capuccino, Torabika Three in One, Torabika Moka, Torabika Susu Full Cream dan Torabika Campuran. “Kami tidak ingin melawan pesaing secara frontal atau head-to-head,” ujar Dipa S. Komala, GM Torabika.

Menurut Dipa, di kategori kopi susu Torabika menempati posisi strategis yang menghasilkan kontribusi signifikan pada penjualan produk kopi seduh di Mayora. “Posisi Torabika menempati posisi nomor dua setelah Kapal Api.”

Dipa menyebutkan, Torabika Duo Susu dalam tujuh bulan terakhir mengalami perbaikan formula. Torabika Duo Susu menjadi Torabika Susu Full Cream. Perubahan ini, menurutnya, mendapat tanggapan yang sangat bagus dari konsumen. Bahkan dari penelitian yang dilakukan terhadap konsumen kopi, perubahan ini menjadikan rasa Torabika lebih mantap. “70% dari mereka mengatakan rasa Torabika Susu Full Cream lebih unggul. Cukup diberikan sampel, mereka langsung pindah merek,” ujar Dipa mengklaim.

Tak hanya mengandalkan kekuatan produk, Mayora juga menggunakan strategi jemput bola dalam menggarap pasar kopi susu ini. Salah satu langkah yang diterapkan adalah menyediakan jasa kopi seduh di berbagai lokasi, mulai dari pusat perbelanjaan hingga menggunakan sepeda keliling. Bahkan, penjaja kopi yang menggunakan sepeda keliling jumlahnya mencapai ribuan yang tersebar di berbagai kota. Mereka adalah penjual lepas yang berada di bawah agen penjual Torabika.

Sebagai daya tarik, Mayora dan agen menawarkan keuntungan yang lebih besar bagi para pedagang keliling tersebut. Para agen tersebut, dikatakan Dipa, mempunyai anak buah yang kemudian menjadi agen keliling. Kontribusi pendapatan dari para agen keliling selalu tumbuh dalam tiga tahun terakhir. Dia tidak mau berkomentar banyak mengenai nominal pertumbuhannya.

Yang menarik, Mayora tidak terlalu fokus dalam memenetrasi warung-warung tradisional. Menurut Dipa, sering cara ini hanya sebagai “gerakan palsu”. Artinya, hanya menjadi permainan tim penjualan dan distribusi. “Barangnya sendiri kurang jalan,” ujarnya.

Strategi yang berbeda ditempuh PT Nestle Indonesia. Sebagai pemain baru di kategori kopi susu (tubruk), Nestle sedang fokus menggarap semua lini distribusi. “Kami harus mampu hadir di mana pun peminum kopi tradisional berada,” ungkap Andrey Septiana dari tim pemasaran Nestle Indonesia.

Andrey menjelaskan, sebelumnya Nestle hanya bermain di kategori kopi instan. Namun, tahun lalu Nestle mulai merambah kategori kopi tubruk karena melihat pertumbuhan pasarnya lebih besar ketimbang kopi instan. Dengan bermain di dua jenis produk tersebut, Nestle berusaha memberikan pilihan yang lebih beragam kepada konsumen. “Selain itu,” katanya, “pasar kopi susu memang sangat menarik, karena terus tumbuh.”

Walau pasarnya sangat menarik, menurut Andrey, persaingan di kategori ini juga sangat sengit. Setiap pemain punya strategi yang berbeda. “Untuk meningkatkan terus penjualan, Nestle Indonesia terus-menerus menyempurnakan sistem distribusi untuk menjamin ketersediaan produk agar dapat menjangkau konsumen dari semua kalangan, termasuk warung kopi dan lingkungan-lingkungan permukiman,” ujarnya.

Dipa menuturkan, persaingan di lapangan juga dilakukan dengan menjelek-jelekkan pesaing. Namun, Mayora enggan melakukan hal tersebut. “Kami hanya bilang bahwa produk kami rasanya enak. Sudah itu saja,” katanya. Menurutnya, bisa saja Torabika menempuh cara yang sama, tetapi itu berisiko menurunkan omset.

Selain itu, lanjut Dipa, ada juga pemain yang menerapkan taktik banting harga dan didukung dengan frekuensi iklan yang tinggi di televisi. “Menurut kami, itu bentuk kepanikan mereka,” ujarnya. Torabika hanya sesekali beriklan di televisi. “Dalam setahun rata-rata berada di bilangan 4 ribu gross rating point,” ungkapnya.

Dipa tetap meyakini tidak ada satu pun merek besar yang dibangun dari harga. Harga bukanlah hal yang menjadi pertimbangan untuk memenangi persaingan. “Kami tidak membedakan status (ekonomi), atas atau bawah. Semua sama,” ujarnya. “Kompetitor jual berapa, tidak relevan buat kami. Penentuan harga produk ditentukan dari rata-rata daya beli konsumen atau consumer buying price.”

Walaupun begitu, tidak mungkin Torabika menaikkan harga lebih dari Rp 1.500. “Lebih dari itu, tidak masuk pada consumer buying price saya,” kata Dipa menjelaskan. Itu berarti walaupun harga tidak bisa terlalu murah, tetap saja harga tidak bisa lebih dari batas daya beli konsumen. Justru ekuitas sebuah produk makin meningkat dengan memosisikan harga yang tidak murah. Bisa saja Torabika melakukan hal itu, tetapi itu berisiko menurunkan omset.

Bukan berarti Dipa menampik begitu saja jalur promosi lewat iklan media massa. Promosi bukanlah apsek tunggal untuk keberhasilan produk. “Kalau tujuan promosinya sesuai, dengan beriklan itu (menjadi) efektif. Kami masih percaya pada promosi itu, namun bobotnya tidak sehebat kualitas produk dan distribusinya,” katanya. Ia mengakui, Torabika dulu pernah menganggarkan iklan untuk televisi sebesar 80%, kemudian turun menjadi 60%. Tahun ini porsi iklan terendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Ketatnya persaingan di kategori kopi susu diungkapkan pula oleh sumber SWA di kopi Cap Singa. Menurut sumber yang enggan disebutkan jati dirinya itu, saking ketatnya persaingan, penguasa pasar di setiap daerah berbeda-beda. “Ada pemain yang sangat kuat di satu kota, tapi lemah di kota lainnya,” ujarnya.

Yadi memperkuat ungkapan sumber tersebut. "Jangan lupa, ada significant number player di daerah-daerah yang kuat: Sum-Ut, Ja-Tim, Makassar, Bali. Masing-masing market bisa kontrol 20%-25% pangsa pasar yang tidak dikuasai pemain nasional,” katanya.

Menurut Yadi, menggantikan posisi pemimpin pasar cukup sulit karena kopi susu termasuk yang brand preference dan punya loyalitas yang tinggi. Selain itu, sulit menguasai pasar nasional, di mana merek regional seperti Cap Singa dan Ayam Merak masih cukup unggul. Kalau berdasarkan wilayah, lanjutnya, Indonesia bagian timur masih dikuasai Kapal Api, sedangkan bagian barat dikuasai ABC, meskipun mereka tidak terpaut jauh. “Mereka unggul pada kategori sachet, sedangkan Nestle lebih banyak bermain pada kemasan besar,” ujarnya.

Kopi Singa, menurut sumber SWA tadi, belum terlalu fokus di kategori kopi susu. Pihaknya masih berkonsentrasi pada produk kopi hitam, di mana kopi Singa punya ciri khas tersendiri, yaitu dalam hal rasa. Namun, bukan berarti kopi Singa melupakan kategori kopi susu begitu saja. “Januari ini akan mulai kami genjot pemasarannya,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, salah satu langkah yang sudah ditempuh pihaknya adalah melakukan komunikasi massal lewat televisi. “Januari 2009 kami mulai beriklan di TV selama lima bulan,” ungkapnya. Hanya saja, hasil yang diperoleh dari kegiatan tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan. “Memang ada pertumbuhan. Tapi kami ingin lebih dari itu.”

Menurut Jahja, iklan televisi tidak terlalu efektif mendongkrak kesadaran akan suatu merek. Aktivitas branding yang komprehensif (tak hanya mengandalkan above the line) merupakan hal yang wajib dilakukan pemain di kategori ini. Karena itu, dia pun tidak mengartikan
upaya ABC, baik lewat iklan maupun kepedulian sosial, merupakan bentuk kepanikannya menghadapi Torabika. “Itu wajar karena ABC merek yang sudah cukup mapan dan ia perlu menyikapi persaingan tersebut dengan langkah-langkah yang lebih radikal.”

Jahja mengatakan, kategori kopi susu sebenarnya menyimpan potensi yang lebih besar ketimbang kopi hitam. “Kopi susu bisa menyasar pasar nonpreminum kopi, wanita dan remaja,” ungkapnya. Pemain di kategori ini, menurutnya, tidak bisa banyak berharap penggemar kopi hitam pindah haluan.

Menurutnya, hal terpenting dalam memenetrasi pasar bukan hanya memikirkan produk. Berbicara kopi juga tak bisa dilepaskan dari pertimbangan citarasa dan kesatuan produk. “Kita harus paham untuk apa orang minum kopi, apakah dari rasanya, wanginya, kemasannya ataukah mereknya?”

Industri kopi berada di pasar ceruk yang saling tumpang tindih. “Selama kategorinya masih sama, kopi hitam, kopi susu, itu tidak bisa dikatakan mempunyai segmen yang berbeda satu sama lain,” kata Jahja menandaskan. Konsumsi kopi Indonesia per kapita amat sangat rendah. “Akan sangat banyak orang meminum kopi,” katanya. Hal itu bisa terlihat dari masih banyaknya anak muda dan wanita yang kini tidak menyukai kopi.


Reportase: Moh. Husni Mubarak, Rias Andriati dan Siti Ruslina
Riset: Siti Sumariyati

 

Sumber: swa.co.id

 

Doing Business in 2010

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,17/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Senin, 14 Desember 2009 19:43
International Finance Corporation (IFC) akan mengumumkan laporan "Doing Business di Indonesia 2010" mengenai kemudahan berusaha antar kota dan merupakan laporan tingkat daerah pertama di Indonesia.

Menurut Associate Operations Officer Investment Climate Advisory Service World Bank Group Sandra Pranoto, di Jakarta Jakarta, Senin (14/12/2009), pengumuman akan dilakukan besok.

"Doing Business di Indonesia 2010 adalah laporan yang penting karena untuk pertama kalinya data Doing Business disurvei di luar ibukota Jakarta. Laporan ini tidak hanya dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai penerapan kebijakan usaha di Indonesia, tetapi juga memungkinkan kota-kota di Indonesia untuk memperbandingkan kebijakan usaha dengan kota-kota lainnya yang disurvei dan dengan 183 perekonomian di dunia," ucap Sandra.

Perbandingan antar kota di sebuah negara, seperti Indonesia, merupakan pendorong reformasi yang lebih kuat dibandingkan dengan perbandingan antar negara secara global. Sebagai contoh di Meksiko, 9 dari 12 negara bagian yang diperbandingkan pada tahun 2006 dan 2007 melakukan setidaknya satu reformasi untuk meningkatkan kemudahan menjalankan usaha.

Laporan dan metodologi yang digunakan dalam laporan ini memberikan perbandingan antar daerah dan global mengenai kinerja penerapan kebijakan melalui serangkaian indikator yang menunjukkan kemudahan menjalankan usaha.

Indikator-indikator yang digunakan IFC dalam melaksanakan Doing Business di Indonesia 2010 antaralain 1. Fokus pada peraturan-peraturan yang terkait dengan siklus hidup suatu perseroan terbatas domestik berukuran kecil-menengah 2. Didasarkan pada skenario yang telah terstandarisasi 3. Fokus kepada sektor formal Pengumpulan datanya sendiri dilakukan dengan mengikuti metodologi yang digunakan dalam laporan Doing Business global.

"Temuan-temuan yang terekam dalam laporan disusun berdasarkan masukan dan verifikasi responden yang secara rutin menjalankan dan memberikan konsultasi mengenai hukum dan peraturan, serta analisa keputusan pemerintah," ucap Sandra.

Metodologi yang digunakan adalah metodologi survei dimana survei dilakukan terhadap lebih dari 160 tenaga ahli di daerah, meliputi notaris, pejabat pembuat akta tanah, arsitek, insinyur, pejabat pemerintah dan tenaga profesional lainnya yang sehari-hari secara rutin menjalankan atau memberikan konsultasi mengenai persyaratan hukum dan peraturan.

Setelah dilakukan survei maka langkah selanjutnya adalah penyusunan peringkat. Peringkat untuk setiap topik merupakan hasil dari perhitungan rata-rata dari peringkat untuk seluruh indikator tersebut. "Yang menjadi dasar pemeringkatan antaralain prosedur, waktu, dan biaya contohnya kemudahan mendirikan usaha, kemudahan mendapatkan izin untuk mendirikan bangunan, kemudahan mendaftarkan properti," kata Sandra.

Adapun yang menjadi mitra utama dalam Doing Businness ini sendiri antaralain 1. Kementrian Negara Pemberdayagunaan Aparatur Negara 2. Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) 3. Para pejabat pemerintah daerah 4. Tenaga ahli daerah.

Tahun lalu Indonesia berada di peringkat 129 dari sebelumnya peringkat 123. Hal ini memperlihatkan lambatnya reformasi kebijakan dalam menciptakan situasi kondusif bagi pengusaha untuk membuka bisnis baru. Dibandingkan Thailand yang berada di peringkat 13, Indonesia jauh berada di bawah. Nah bagaimana dengan tahun ini?


C19-09

Editor: Edj
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 1 dari 6

Login

CB Login

 

Who's The Star

Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010

Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ...

Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010

Build Your Dream (BYD) : Wang Chuanfu

Tanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang...

Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010

Marni: Pengrajin Sulam Usus Lampung

Manusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su...

Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010

feed image