Sales & Marketing

Doing Business in 2010

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,3/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Senin, 14 Desember 2009 19:43
International Finance Corporation (IFC) akan mengumumkan laporan "Doing Business di Indonesia 2010" mengenai kemudahan berusaha antar kota dan merupakan laporan tingkat daerah pertama di Indonesia.

Menurut Associate Operations Officer Investment Climate Advisory Service World Bank Group Sandra Pranoto, di Jakarta Jakarta, Senin (14/12/2009), pengumuman akan dilakukan besok.

"Doing Business di Indonesia 2010 adalah laporan yang penting karena untuk pertama kalinya data Doing Business disurvei di luar ibukota Jakarta. Laporan ini tidak hanya dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai penerapan kebijakan usaha di Indonesia, tetapi juga memungkinkan kota-kota di Indonesia untuk memperbandingkan kebijakan usaha dengan kota-kota lainnya yang disurvei dan dengan 183 perekonomian di dunia," ucap Sandra.

Perbandingan antar kota di sebuah negara, seperti Indonesia, merupakan pendorong reformasi yang lebih kuat dibandingkan dengan perbandingan antar negara secara global. Sebagai contoh di Meksiko, 9 dari 12 negara bagian yang diperbandingkan pada tahun 2006 dan 2007 melakukan setidaknya satu reformasi untuk meningkatkan kemudahan menjalankan usaha.

Laporan dan metodologi yang digunakan dalam laporan ini memberikan perbandingan antar daerah dan global mengenai kinerja penerapan kebijakan melalui serangkaian indikator yang menunjukkan kemudahan menjalankan usaha.

Indikator-indikator yang digunakan IFC dalam melaksanakan Doing Business di Indonesia 2010 antaralain 1. Fokus pada peraturan-peraturan yang terkait dengan siklus hidup suatu perseroan terbatas domestik berukuran kecil-menengah 2. Didasarkan pada skenario yang telah terstandarisasi 3. Fokus kepada sektor formal Pengumpulan datanya sendiri dilakukan dengan mengikuti metodologi yang digunakan dalam laporan Doing Business global.

"Temuan-temuan yang terekam dalam laporan disusun berdasarkan masukan dan verifikasi responden yang secara rutin menjalankan dan memberikan konsultasi mengenai hukum dan peraturan, serta analisa keputusan pemerintah," ucap Sandra.

Metodologi yang digunakan adalah metodologi survei dimana survei dilakukan terhadap lebih dari 160 tenaga ahli di daerah, meliputi notaris, pejabat pembuat akta tanah, arsitek, insinyur, pejabat pemerintah dan tenaga profesional lainnya yang sehari-hari secara rutin menjalankan atau memberikan konsultasi mengenai persyaratan hukum dan peraturan.

Setelah dilakukan survei maka langkah selanjutnya adalah penyusunan peringkat. Peringkat untuk setiap topik merupakan hasil dari perhitungan rata-rata dari peringkat untuk seluruh indikator tersebut. "Yang menjadi dasar pemeringkatan antaralain prosedur, waktu, dan biaya contohnya kemudahan mendirikan usaha, kemudahan mendapatkan izin untuk mendirikan bangunan, kemudahan mendaftarkan properti," kata Sandra.

Adapun yang menjadi mitra utama dalam Doing Businness ini sendiri antaralain 1. Kementrian Negara Pemberdayagunaan Aparatur Negara 2. Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) 3. Para pejabat pemerintah daerah 4. Tenaga ahli daerah.

Tahun lalu Indonesia berada di peringkat 129 dari sebelumnya peringkat 123. Hal ini memperlihatkan lambatnya reformasi kebijakan dalam menciptakan situasi kondusif bagi pengusaha untuk membuka bisnis baru. Dibandingkan Thailand yang berada di peringkat 13, Indonesia jauh berada di bawah. Nah bagaimana dengan tahun ini?


C19-09

Editor: Edj
 

The Product and The Brand

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,3/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Senin, 07 Desember 2009 10:18


“Awalnya, merek (brand) digunakan untuk membedakan sebuah produk di antara produk lain yang sejenis. Dengan menggunakan merek, sebuah produk akan keluar dari kategori produk komoditas, yang harganya ditentukan oleh hukum pasar. Oleh karena itu, produk bermerek berkesempatan memasang harga di atas rata-rata harga pasar.

Tahun 1955 di Harvard Business Review, tayang sebuah artikel bertajuk “The Product and The Brand” tulisan Burleigh Garder dan Sidney Levy, yang semakin memperjelas perbedaan antara merek dan produk. Konsep merek mulai dirumuskan pada tahun 1980-an, termasuk bagaimana mengukur nilai sebuah merek (brand equity). Kemudian, istilah merek pun semakin populer pada tahun 1990-an, dan menjadi bahasan utama dalam bidang pemasaran.

Dulu, sebuah merek cukup dengan nama yang unik, slogan nan indah, desain logo cantik atau jingle iklan populer. Manajemen merek pun ditujukan untuk meningkatkan nilai merek, dengan program pemasaran terpadu, promo, iklan ataupun program kehumasan. Saat itu, semua merek bekerja keras untuk meraih brand value, brand strength, top of mind, brand awareness, dan brand loyalty, yang ujung-ujungnya akan melipatgandakan brand equity masing-masing.

Kini, Anda sebagai pemilik merek sepertinya harus mengubah paradigma tentang merek. Mungkin benar, di era New Wave sekarang ini, “Merek adalah Karakter”. Ya, tidak cukup hanya membangun merek, tetapi juga harus membangun karakter. Merek hanyalah selubung yang membungkus karakter sesungguhnya dari produk atau bisnis Anda. Karakter berkaitan dengan siapa Anda yang sebenarnya, dan bagaimana masyarakat melihat Anda apa adanya. Oleh karena itu, proses membangun karakter ini harus berlandaskan nilai-nilai kebaikan yang universal, seperti kejujuran, saling menghormati, tanggung jawab, prinsip keadilan, peduli satu sama lain, dan rasa kemanusiaan.

Satu hal lagi, bukan perusahaan raksasa saja yang harus membenahi karakter mereknya. Setiap pemilik merek semestinya melakukan hal yang sama, bahkan untuk level usaha kecil menengah (UKM). Seperti yang saat ini saya lakukan untuk BaksoGranatz, sebuah merek gerai bakso di daerah Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah. Hal itu diawali dengan menciptakan nama yang unik, kemudian desain logo yang sesuai, termasuk dengan menjaring komunitas melalui situs jejaring sosial Facebook. Karena target market BaksoGranatz lebih ke konsumen usia muda, karakter BaksoGranatz dirancang seperti anak muda zaman sekarang, yang kreatif, open mind, segar, dan selalu semangat. Itu tentu saja tanpa melupakan nilai kejujuran dan kebaikan universal lainnya.”

Nah, bagaimana dengan Anda?

Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

Editor: Edj
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 4 dari 31

Login

CB Login

 

Who's The Star

Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010

Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ...

Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010

Build Your Dream (BYD) : Wang Chuanfu

Tanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang...

Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010

Marni: Pengrajin Sulam Usus Lampung

Manusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su...

Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010

feed image