Stock Market

Bagaimana Prospek Saham Semen Sekarang?

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,10/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Jumat, 30 Oktober 2009 12:59
Berlawanan dengan konsumsi semen domestik yang menurun tahun ini, jutru saham tiga emiten semen mengalami peningkatan signifikan. Ada apa dan bagaimana prospek saham semen ini?

Memang, kalau dibanding periode yang sama di tahun lalu, konsumsi semen domestik pada semester I/2009 mengalami penurunan hingga 7%. Lalu, dari Januari hingga September 2009 konsumsi semen domestik, seperti yang diungkap Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia Urip Timuryono, menurun hingga 4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 28,5 juta ton. Kendati menurun 4%, pencapaian tersebut jauh lebih baik dibanding akhir semester I/2009 yang turun 7%.

Namun, kalau dilihat per bulan sejak Juli 2009, konsumsi semen domestik cukup menggembirakan. Seperti pada Juli dan Agustus 2009, masing-masing mengalami pertumbuhan sebesar 2,8% dan 7,5% dibanding periode yang sama di tahun lalu.

Pertumbuhan semen domestik di Juli dan Agustus 2009 itu lebih banyak disumbang oleh pertumbuhan permintaan semen di luar Pulau Jawa. Seperti di Agustus 2009, permintaan semen domestik yang sebesar 7,5% merupakan kontribusi pertumbuhan sebesar 22,3% berasal dari luar Jawa. Sementara, Jawa sendiri yang mengonsumsi sekitar 55% dari total konsumsi nasional masih mengalami pertumbuhan negatif sebesar 1,9%.

Penurunan tersebut tak lepas dari kondisi makro perekonomian yang belum pulih total. Khusus pada September lalu, ada libur Lebaran hingga 10 hari sehingga membuat proses distribusi berkurang. Hasilnya, sepanjang September penjualan semen hanya 2,5 juta ton. Sementara, dari Januari hingga September 2009, penjualan produk ini mencapai 27,2 juta ton.

Namun, harapan akan membaiknya industri semen tetap ada. Dan, tanda-tanda itu sudah terlihat memasuki semester II tahun ini, kendati konsumsi semen tahun ini diprediksi akan lebih rendah dibanding pencapaian tahun 2008. Konsumsi semen dalam negeri pada tahun lalu mencapai 38,08 juta ton, sedangkan pada tahun 2007 hanya 34,17 juta ton. Secara total penjualan semen untuk domestik dan ekspor pada 2008 menembus 43,02 juta ton, atau naik dari tahun 2007 yang mencapai 41,95 juta ton.

Nah, tahun ini Asosiasi memperkirakan konsumsi domestik sekitar 36 juta ton, dan tahun depan diprediksi akan lebih besar lagi, yaitu 38-39 juta ton. Inilah yang membuat ekpektasi terhadap saham semen meningkat sejalan dengan mulai menggeliatnya proyek pembangunan properti dan infrastruktur yang sempat tertunda akibat krisis. Belum lagi pembangunan sarana dan prasarana dalam rangka pemulihan akibat bencana gempa seperti di Sumatera dan Jawa Barat.

Tengok saja, harga saham tiga perusahaan semen yang sudah listing di bursa. Saham PT Semen Gresik Tbk. (berkode SMGR) per 31 Januari hingga per 15 September 2009 naik 88,5% dari Rp 3.475 menjadi Rp 6.550. Lalu, saham PT Holcim Indonesia Tbk. (SMCB) naik 124% dari Rp 580 menjadi Rp 1.300. Dan, yang paling tinggi kenaikannya, yakni 122,22%, adalah saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) dari Rp 4.500 menjadi Rp 10 ribu.

Agung Wiharto, Manajer Hubungan Investor Semen Gresik (SG), mengungkapkan, upaya perusahaannya meningkatkan kinerja sahamnya adalah dengan dua cara, yaitu fokus pada sinergi grup dan melakukan efisiensi. Seperti kita ketahui, SG memiliki dua anak perusahaan: PT Semen Padang di Sumatera Barat dan PT Semen Tonasa di Sulawesi Selatan. Salah satu upaya melakukan efisiensi adalah dengan efisiensi energi penunjang produksi semen dan transportasi.

“Untuk pabrik semen, energi batu bara mencapai 24%, listrik 16% dan transportasi 14%,” katanya sambil menambahkan, selain menggunakan batu bara rendah kalori yang lebih murah, perusahaan ini juga mengembangkan energi alternatif dari komoditas pertanian. Hal lainnya yang dilakukan adalah berupaya menerapkan Good Corporate Governance (GCG) dengan baik. “Ini upaya kami sebagai perusahaan publik untuk melakukan transparansi,” ia mengungkapkan.

Hingga saat ini, menurut Agung, SG merupakan pemimpin pasar di industrinya dengan penguasaan pasar 45%. Dalam setahun, SG mampu memproduksi 18 juta ton semen: dari Semen Gresik 8,6 juta ton, Semen Padang 5,9 juta ton dan Semen Tonasa 3,5 juta ton.

Untuk meningkatkan kapasitas produknya, SG sedang membuat pabrik baru, yaitu pabrik Tuban IV yang telah dicanangkan oleh Menneg BUMN pada 20 Agustus 2009. Pabrik tersebut berkapasitas 2,5 juta ton/tahun yang dibangun dengan biaya Rp 3,5 triliun, menggunakan teknologi terkini yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Lokasi pabrik baru yang berada di antara pabrik milik SG ini direncanakan dapat beroperasi penuh pada awal 2012. Kehadiran pabrik baru ini memberikan harapan kepada investor di pasar modal bahwa saham perusahaan yang berkode SMGR ini akan lebih prospektif.

Apalagi, kalau menengok kinerjanya yang tambah kinclong. Lihat saja, hingga semester I/2009, di tengah permintaan semen yang mengalami penurunan hingga 8,4%, perusahaan ini hanya mengalami penurunan 5,7%, bahkan mencatat kenaikan laba bersih yang cukup signifikan: 33,2%. Kenaikan tersebut diperoleh karena keberhasilan menekan biaya produksi dan efisiensi segala lini, di antaranya melalui sinergi antar-anak perusahan.

Pada semester I /2009 itu, pendapatan (revenue) SG mencapai Rp 6,77 triliun, atau meningkat 18,8% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2008 sebesar Rp 5,7 triliun. Selama 6 bulan pertama 2009, perusahaan ini mampu menjual semen sebesar 19,49 juta ton untuk konsumsi pasar domestik dan ekspor. Sementara, laba usahanya mencapai Rp 1,91 triliun, naik 25,5% dibandingkan tahun 2008 sebesar Rp 1,52 triliun. Laba bersih SG dalam semester I/2009 tercatat Rp 1,51 triliun, naik 33,2 % dibandingkan periode yang sama pada 2008 sebesar Rp 1,14 triliun, dan EBITDA mencapai Rp 2,13 triliun (naik 19,4%).

Aksi korporasi yang baru saja dilakukan emiten ini, yaitu penjualan 68,03 juta saham, memberikan keuntungan Rp 215,99 miliar. Saham-saham tersebut merupakan hasil buy back SG sejak tahun lalu. Hasil penjualan saham ini memang tidak masuk ke laba-rugi, tetapi tetap akan menambah kas perseroan. Ditambah menguatnya rupiah terhadap dolar AS yang mencapai 10%, kemampuan SG membiayai pabrik menjadi semakin kuat. SG tahun ini memang banyak membutuhkan dana terutama untuk ekspansi. Selain itu, gempa Padang beberapa waktu lalu juga membuat SG harus mengeluarkan dana Rp 9,3 miliar untuk perbaikan. “Buy back kami pada tahun lalu seharga Rp 2.900 per saham dan pada awal Oktober ini dijual pada harga Rp 6.100,” ujar Agung.

Beralih ke Indocement, pada semester I/2009 perusahaan ini juga membukukan kinerja positif. Laba bersih perseroan melejit 52,84% yaitu menjadi Rp 1,18 triliun dibanding semester I/2008 Rp 772 miliar. Pada semester I/2009, Indocement membukukan penjualan sebesar Rp 4,8 triliun, naik 6,67% dibanding semester I/2008 sebesar Rp 4,5 triliun. Biaya produksi menurun 3,41% menjadi Rp 2,55 triliun dari sebelumnya Rp 2,64 triliun.

Beban bunga juga mengalami penurunan signifikan sebesar 60,06% menjadi Rp 30,45 miliar dari sebelumnya Rp 76,24 miliar. Beban bersih pun menurun signifikan sebesar 65,81% menjadi Rp 9,28 miliar dari sebelumnya, Rp 27,16 miliar. Dengan berbagai penurunan pada pos beban tersebut, Indocement berhasil membukukan laba bersih yang melonjak 52,84%. Laba per saham pun otomatis ikut naik sebesar 51,81% menjadi Rp 318,5 per saham (dari sebelumnya Rp 209,8 per saham).

Sementara itu kinerja Holcim -- berkode SMCB -- pada semester I/2009 tidak terlalu menggembirakan. Pada periode tersebut laba bersih Holcim mencapai Rp 280 miliar atau turun 21,78% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yaitu Rp 341 miliar. Penurunan ini didorong oleh tingginya beban bunga pinjaman hingga US$ 195 juta. Rusli Setiawan, Direktur Relationship Management Holcim, mengatakan, dampak tingginya suku bunga pinjaman dalam negeri dan pelemahan nulai tukar rupiah terhadap dolar AS pada awal 2009 juga turut berkontribusi terhadap melorotnya kinerja laba bersih itu. Meski demikian, Holcim membukukan peningkatan penjualan sebesar 15% menjadi Rp 2,35 triliun dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Aksi korporasi yang segera dilakukan Holcim, kabarnya, adalah merealisasi pinjaman senilai US$ 40 juta paling lambat Oktober tahun ini. Dana hasil pinjaman tersebut rencananya akan digunakan untuk membiayai akuisisi 100% saham Holcim Sdn. Bhd. (Malaysia). Nilai akuisisi Holcim Malaysia kabarnya mencapai US$ 50 juta, di mana Holcim akan menggunakan sekitar US$ 40 juta dari pinjaman domestik, sedangkan sisanya yang US$ 10 juta berasal dari kas internal. Selain dari pinjaman bank, Holcim juga tidak menutup kemungkinan emisi obligasi untuk memenuhi target pinjaman.

Holcim Malaysia sendiri memiliki kapasitas penggilingan sebanyak 1,2 juta ton semen/tahun dan pabrik pencampuran sebanyak 65 ton per jam. Menyangkut kinerja keuangan semester II, Rusli memperkirakan pendapatan Holcim bisa meningkat sekitar 20% seiring dengan membaiknya konsumsi semen. Dengan rencana akuisisi ini, diperkirakan kinerja Holcim bisa semakin baik, terutama untuk memenuhi kemungkinan lonjakan permintaan atas semen yang sempat surut. Holcim juga berencana membangun pabrik baru di Tuban, Jawa Timur, yang berkapasitas 2 juta ton semen untuk memenuhi kebutuhan konsumsi semen Ja-Tim yang mencapai 4-5 juta ton/tahun.

Prospek emiten semen sendiri diperkirakan semakin cerah, terkait masih banyak tersisanya anggaran stimulus infrastruktur yang bernilai total Rp 11,549 triliun. Maxi Leisyaputra, analis dari BNI Securities, menganalisis, saham-saham ketiga emiten semen itu sangat menarik. Pasalnya, semua harga sahamnya meningkat, padahal dari awal tahun penjualan semen domestik menurun. Dalam catatan Maxi, dari awal tahun hingga 7 Oktober 2009, saham Indocement naik 154% dari Rp 5.050 menjadi Rp 11.700, saham SG naik 58% dari Rp 4.200 menjadi Rp 6.600, saham Holcim naik 148% dari Rp 660 menjadi Rp 1.560.

Meningkatnya kinerja emiten semen itu lebih didorong oleh internal perusahaan seperti pengendalian biaya produksi, sehingga prospek sahamnya membaik, plus ekspektasi permintaan semen ke depan akan meningkat. Hanya saja, Maxi menggarisbawahi bahwa kenaikan saham ketiga emiten itu sudah terlalu tinggi. “Dengan demikian, saham-saham semen ini jadi kurang menarik, kecuali SG yang belum menyentuh harga tertingginya,” katanya menegaskan. Namun, saham emiten ini akan menarik kembali kalau ada aksi korporasi yang berpengaruh secara siginifikan.

Sejalan dengan Maxi, seorang investor, sebut saja Andi, melihat bahwa saham SG masih menarik untuk dikoleksi. Alasannya, kinerja perusahaan tersebut cukup bagus dan ke depan pun akan tetap tumbuh. Memang, kenaikan saham perusahaan ini selama 2009 cenderung sudah terlalu tajam, tetapi pada 2010-11 diperkirakan SG bisa tampil lebih baik mengingat banyaknya belanja infrastruktur pemerintah dan properti yang akan banyak mengonsumsi semen. “Prospek inilah yang jadi pertimbangan sehingga saya masih memegang saham SG,” ujarnya tanpa mau merinci lebih jauh. Dengan alasan Andi itu pulalah, saham Indocement dan Holcim masih layak dicermati untuk investasi jangka panjang.


Riset: Sarah Ratna Herni

Sumber: Swa.co.id
 

Apa itu Short Selling dan Bahayanya

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,10/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Rabu, 28 Oktober 2009 23:57


text TEXT SIZE : 
Foto: Koran SI.

Apa itu short selling, yang sempat membuat pasar heboh ketika harga saham turun drastis pada penghujung 2008 lalu? Untuk pelaku pasar saham, istilah itu sudah tidak asing lagi.

Tapi bagi para investor baru, ada baiknya untuk mengetahui apa sih short selling itu? Pada dasarnya transaksi short sell merupakan transaksi yang cukup unik. Disebut unik karena transaksi ini memiliki karakter khusus yakni pelaku short sell menjual saham dulu baru kemudian membeli, pelaku short sell menjual saham yang  bukan miliknya, dan pelaku short sell akan meraih untung justru apabila harga saham turun.

Ketika Bursa Efek Indonesia (BEI) belum menyalakan lampu hijau untuk transaksi short sell, transaksi ini sebenarnya sudah banyak dilakukan pelaku pasar secara diam-diam. Dengan menerapkan sistem netting, investor memang sangat dimungkinkan untuk melakukan short sell. Hanya saja ruang geraknya sangat terbatas. Short seller -pelaku short sell- harus melakukan buy back hari itu juga untuk saham yang sama dengan volume yang sama. Praktis, jika saham yang dijual harganya naik berarti short seller akan menderita rugi.

Ilustrasinya begini: Jika investor X melakukan transaksi short sell dengan menjual saham XYZ pada harga Rp6.600 sebanyak 20 lot, maka dengan pola penyelesaian secara nettingi, ia harus membeli lagi saham XYZ sebanyak 20 lot sehingga tidak ada selisih antara volume jual dengan volume beli. Jika harga XYZ turun dan X bisa membeli di bawah harga Rp6.600 maka ia akan mendapatkan untung. Sebaliknya jika XYZ naik dan X terpaksa harus membeli hari itu juga pada harga di atas Rp6.600, maka X akan menderita kerugian.

Inilah bahaya transaksi short. Jika pelaku short salah memprediksi arah pasar maka hampir pasti ia akan menderita kerugian. Karena itu, seorang short seller dituntut memiliki kemampuan yang tinggi dalam membaca arah pasar. Dengan memperhatikan informasi yang berkembang - baik indikator ekonomi makro maupun fundamental perusahaan seta sentimen pasar yang terbentuk - seorang short seller akan memutuskan apakah ia akan melakukan transaksi short atau tidak. Keputusan jual dan belipun harus dilakukan secara cepat. Transaksi ini termasuk jenis transaksi berisiko sehingga tidak sembarang investor mampu dan berani melakukannya.

Transaksi short sell sempat dilarang ketika pasar sedang mendapat tekanan berat akibat krisis keuangan global pada Oktober hingga Desember 2008. Kini transaksi short sell telah diperbolehkan kembali pada saham-saham tertentu yang sudah ditetapkan oleh otoritas. Dengan dinyalakannya lampu hijau untuk transaksi short sell, kalangan short seller tidak perlu buru-buru harus buy back saham hari itu juga. Sebab, ada mekanisme pinjam meminjam saham (lending end borrowing) yang akan dimainkan oleh PT Kliring dan Penjaminan Efek Indonesia (APEI).

Dengan pola ini investor bisa lebih leluasa melakukan transaksi short sell. Jika investor tidak bisa melakukan buy back pada hari yang  sama, maka ia bisa menunggu hari berikutnya. Hanya saja, selama saham belum dibeli si investor akan dikenai kewajiban semacam bunga pinjaman. Nilainya bervariasi antara perusahaan broker yang satu dengan lainnya. Kisarannya antara 15 persen hingga 18 persen setahun.

Untuk bisa memenangkan transaksi short dibutuhkan kemampuan khusus. Transaksi short selling tidak bisa hanya dilakukan dengan mengandalkan felling semata. Alat bantu yang lebih banyak digunakan adalah teknikal analisis. Saham yang dibolehkan ditransaksikan secara short adalah saham-saham favorit dan likuid. (Tim BEI)(//rhs)

 

 

Sumber: www.okezone.com

 

Apa itu Waran (Covered Warant) dan bedanya dengan Saham

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,10/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Rabu, 28 Oktober 2009 23:47
WARAN bagi sebagian besar pelaku pasar --apalagi yang aktif bertransaksi setiap hari di Bursa Efek-- bukanlah sesuatu yang asing. Tapi bagi sebagian yang lain, apalagi mereka yang baru berkecimpung di pasar modal, istilah waran masih menjadi tanda tanya.

Apa sebenarnya yang dimaksud waran, apa bedanya dengan saham dan apa untung ruginya membeli waran? Bisa jadi ada sederet pertanyaan lain yang masih berkaitan dengan waran.

Istilah waran sebenarnya berasal dari covered warrant, sebuah produk investasi yang diterbitkan pertama kali oleh perusahaan-perusahaan Jepang di pasar modal Swiss pada tahun 1980-an. Ia hampir sama dengan opsi saham (option), dipergunakan sebagai sarana lindung nilai (hedging). Covered warrant umumnya diterbitkan oleh perusahaan keuangan seperti investment bank, bank, lembaga pemerintah atau institusi lain yang bukan emiten atau perusahaan publik. Dalam perkembangannya, mulai banyak emiten atau perusahaan publik yang menerbitkan covered warrant.

Penerbit covered warrant memperoleh premi dari pemodal atas penawaran covered warrant yang dilakukannya, sementara pemodal memperoleh hak untuk membeli atau menjual underlying asset pada harga tertentu dan pada waktu tertentu. Adapun aset yang dapat menjadi underlying asset dari covered warrant adalah saham, portofolio saham atau aset tertentu, indeks, kurs mata uang, dan komoditi.

Seperti halnya produk opsi saham (option) yang dibedakan antara put option dan call option, covered warrant juga dibedakan antara put warrant dan call warrant. Pada umumnya waran yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah call warrant, di mana pemegang waran diberikan hak untuk membeli atau melaksanakan hak untuk membeli saham yang diterbitkan oleh emiten tersebut pada jumlah dan harga tertentu serta pada waktu tertentu.

Saat ini cukup banyak emiten di BEI yang menerbitkan waran. Umumnya waran diterbitkan sebagai pemanis (sweetener) bersamaan dengan penerbitan saham baru baik dalam rangka penawaran umum (initial public offering/IPO)  ataupun penawaran umum terbatas (right issue). Karena diterbitkan sebagai pemanis, umumnya emiten sebagai penerbit waran tidak memperoleh dana (premi) dari penerbitan waran tersebut.

Ilustrasinya begini. Misalnya PT XYZ akan melakukan penawaran umum (IPO) 500 juta saham dengan nominal Rp100 dan ditawarkan pada harga Rp1.000 per saham. Bersamaan dengan itu, PT XYZ juga menerbitkan 250 juta waran seri I yang diterbitkan menyertai saham, di mana setiap pemegang 2 saham baru akan mendapatkan 1 waran seri I. Setiap waran seri I memberikan hak kepada pemegang saham untuk membeli satu saham baru perseroan yang dikeluarkan dari portopel. Waran seri I perseroan diterbitkan mempunyai jangka waktu pelaksanaan selama tiga tahun di mana waran seri I itu bernilai nominal Rp100 dan harga pelaksanaan (exercise price) Rp1.200.

Karena diterbitkan sebagai sweetener, maka waran yang diterbitkan tadi merupakan bonus cuma-cuma bagi investor. Jika harga saham XYZ mengalami kenaikan saat masuk pasar sekunder, maka investor selain memperoleh keuntungan berupa capital gain, juga mendapatkan keuntungan berupa waran. Sebab, saat masuk ke pasar sekunder waran yang diberikan secara cuma-cuma tadi juga diperdagangkan pada papan yang terpisah. Artinya waran itu mempunyai nilai yang besarnya akan terbentuk sesuai dengan mekanisme pasar. Jika harga saham misalnya naik menjadi Rp1.100 dan waran diperdagangkan dan ditutup pada harga Rp100, maka berarti capital gain yang diperoleh investor dari setiap saham adalah Rp100 plus setengah dari nilai waran.

Lantas apa untungnya bagi investor membeli waran? Seperti disebutkan di atas waran hampir sama dengan opsi, ia adalah hak. Karena di Indonesia yang dimaksud waran adalah call warrant, maka ia berarti hak membeli saham pada harga tertentu (dalam contoh ini exercise price Rp1.200). Pemegang waran akan untung jika harga saham di pasar lebih tinggi dari exercise price plus harga pembelian waran.

Dalam contoh ini, jika investor membeli waran di Rp100, maka ia akan untung jika harga saham saat jatuh tempo berada di atas Rp1.300 (Rp1.200 + Rp100). Jika saat jatuh tempo harga saham Rp2.000, maka investor akan meraih gain Rp700 per saham. Tapi jika harga saham turun di bawah Rp1.200, investor tidak perlu menggunakan haknya untuk membeli. Artinya, potensi kerugian paling tinggi yang bisa terjadi pada investor sebesar harga waran yang dibelinya di pasar. (Tim BEI)(//jri)
 

Kapan sebaiknya menjual Saham?

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,10/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Selasa, 27 Oktober 2009 23:55

Kapan kita sebaiknya menjual saham, kadang-kadang kita tidak tahu kalau harga saham kita lagi bagus. Kita baru tahu, setelah beberapa hari, namun pada saat mau dijual, harga sahamnya sudah turun.

Jawaban:

Sebaiknya saham dijual saat harganya sudah melampaui dari nilai wajarnya. Nilai saham atau target harga bisa dikonsultasikan melalui analisa fundamental dan analisa teknikal. Pada analisa fundamental, target harga tersebut umumnya ada di setiap laporan riset yang dikeluarkan oleh perusahaan sekuritas.

Setiap perusahaan sekuritas tentunya memiliki pandangan tersendiri mengenai prospek suatu saham dan maka dari itu target harga yang dikeluarkan oleh setiap perusahaan sekuritas berbeda. Kadangkala perbedaan tersebut sangat ekstrem, sehingga sebaiknya Anda berpatokan pada rata-rata target harga dari emiten tersebut.

Untuk analisa teknikal, target harga bisa didapatkan melalui analisa grafik (charting). Pada umumnya broker di perusahaan sekuritas memiliki kemampuan untuk melakukan analisa teknikal sehingga bisa memberikan target harga atau merekomendasikan kapan menjual atau membeli suatu saham.

Sebaiknya saham dijual saat harganya sudah melampaui dari nilai wajarnya. Nilai wajar suatu saham atau target harga bisa dikonsultasikan melalui analisa fundamental dan analisa teknikal.  Banyak analis/investor yang berpandangan hanya kepada analisa fundamental dan mengabaikan analisa teknikal.  Tetapi ada baiknya jika kedua metode tersebut digabungkan untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas.  Ada baiknya jika analisa fundamental digunakan untuk menjawab pertanyaan "saham apa yang harus dibeli atau dijual?" dan analisa teknikal untuk menjawab pertanyaan "kapan saham tersebut bisa dibeli atau dijual?"

Sumber: www.okezone.com

 

Bagaimana memulai Reksadana

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,10/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Selasa, 27 Oktober 2009 23:51

Apa yang harus dilakukan bila ingin mulai berinvestasi di Reksadana?

Jika berkeinginan berinvetasi di reksadana , sebaiknya Anda berinvetasi pada reksadana yang terdaftar di Bapepam LK.  Silahkan mengunjungi situs Bapepam di www.bapepam.go.id.

Saya tidak dapat secara langsung merekomendasikan reksadana ekuiti yang sebaiknya dibeli.  Melalui situs bapepam tersebut Anda juga dapat mendapatkan data kinerja dari seluruh reksadana yang terdaftar di Bapepam.

Secara sekilas, reksadana pada awalnya dimulai pada nilai aset bersih (NAB) sebesar 1.000.  Jika ada reksadana yang saat ini memiliki NAB jauh di atas 1.000 maka merupakan salah satu ukuran bahwa manajer investasinya memiliki kinerja masa lampau yang cukup baik.

Tetapi harus diingat bahwa kinerja manajer investasi di masa lalu bukan merupakan tolok ukur terhadap kinerjanya di masa yang akan datang. Reksadan equity menjanjikan keuntungan yang lebih tinggi diantara reksadana-reksadana jenis lainnya tetapi juga memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi pula.

Sebagai tambahan, hati-hati terhadap pemasar reksadana yang menjanjikan suatu angka keuntungan tertentu dan memberikan jaminan bahwa anda tidak bisa merugi.  Investasi awal anda di reksadana terutama pada reksadana equity dapat turun seiring dengan kondisi perekonomian Indonesia dan dunia.

 

Sumber: www.okezone.com

 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 3 dari 6

Login

CB Login

 

Who's The Star

Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010

Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ...

Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010

Build Your Dream (BYD) : Wang Chuanfu

Tanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang...

Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010

Marni: Pengrajin Sulam Usus Lampung

Manusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su...

Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010

feed image