Investor Konservatif bisa kaya kok

Sabtu, 07 Maret 2009 18:47

plugins/content/imagesresizecache/eb44fdd1c82d4c8bd589a5a2926694d2.jpegInvestor yang berkarakter risk averse kini memiliki banyak pilihan instrumen investasi. Ada deposito, reksa dana pendapatan tetap, ORI, sukuk ritel dan EBA. Bagaimana peluang dan risikonya?

Pilihan investasi bagi investor yang mempunyai toleransi rendah terhadap risiko (risk averse) bertambah dengan adanya instrumen baru: sukuk ritel dan efek beragun aset (EBA). Ini melengkapi instrumen investasi berisiko rendah yang sudah ada sebelumnya, seperti deposito, obligasi konvensional (baik yang diterbitkan pemerintah maupun korporasi), dan reksa dana pendapatan tetap (RDPT).

Deposito adalah jenis investasi yang paling lama dikenal masyarakat. Produk simpanan berjangka dari bank ini menawarkan tenor satu bulan, tiga bulan, enam bulan dan 12 bulan. Besarnya bunga deposito mengacu pada naik-turunnya Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Berdasarkan data Pusat Informasi Pasar Uang (PIPU) Bank Indonesia per Februari 2009, besaran bunga deposito yang dipatok bank-bank bervariasi. Dalam setahun, bunga deposito satu bulan sebesar 6,25%-11,75%, bunga deposito tiga bulan sebesar 6,25%-12,88%, bunga deposito enam bulan sebesar 6,75%-12,50%, dan deposito 12 bulan bunganya 6%-12%. Saat ini suku bunga deposito yang dijamin oleh pemerintah melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebesar 9,5% dengan dana simpanan maksimal Rp 2 miliar.

Untuk RDPT, ada tiga pilihan, yakni reksa dana yang investasinya di obligasi pemerintah, obligasi korporat dan campuran keduanya. Jangka waktu investasinya medium, yaitu 1-3 tahun. Besar-kecilnya return reksa dana pendapatan tetap ini tergantung pada naik-turunnya harga obligasi. Sebagai gambaran, RDPT Nikko Gebyar Indonesia per Juli 2008 kinerjanya menunjukkan return 21,16% per bulan atau 56,61% per tahun.

Obligasi ritel atau yang dikenal dengan ORI belakangan juga meramaikan dunia investasi. Dengan adanya ORI, investor individu mendapat kesempatan berinvestasi di surat utang negara (SUN) yang selama ini didominasi investor institusi. ORI ditawarkan secara ketengan dengan minimal investasi Rp 5 juta dan tenor lima tahun. Imbal hasilnya disebut dengan kupon yang dibayarkan tiap bulan. Contoh ORI seri 005 yang dikeluarkan pada Agustus 2008 kuponnya sebesar 11,45% per tahun.

Sementara itu, Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK-EBA) Danareksa SMF 01-KPR BTN resmi listing di Bursa Efek Indonesia. Produk ini merupakan kumpulan 5.060 tagihan KPR terpilih senilai Rp 111,11 miliar yang dibeli dari BTN. EBA ini bersifat arus kas tetap dengan nilai pokok yang diamortisasi tiga bulanan, tingkat bunga 13% per tahun yang akan dibayar tiap tiga bulan, rata-rata umurya dua tahun enam bulan, dan meraih rating Aaa.id (triple A) dari Moody’s. Untuk investor ritel, EBA dipasarkan dengan harga Rp 1 juta per unit, tapi nilai minimal pembelian Rp 5 juta.

Priyo Santoso, Presdir PT Danareksa Investment Management, menjelaskan, EBA dengan emisi Rp 100 miliar ini merupakan tahap pertama dari rencana serial penerbitan senilai hingga Rp 500 miliar. Bertindak sebagai koordinator global, pembeli siaga dan pendukung kredit adalah PT Sarana Multigriya Finansial (SMF).

Menurut Priyo, KIK EBA Danareksa SMF 01-KPR BTN menyimpan sejumlah kelebihan. Pertama, dengan rating triple A, risiko kreditnya paling rendah, karena pemilihan tagihan pinjaman sangat ketat (menggunakan 32 kriteria). Juga, ada credit enhancement (penguat kredit) dari SMF, sehingga ada penguat jika terjadi sesuatu, bunga tetap lancar dibayar 13% per tahun. Toh, itu bukan berarti produk ini tanpa cela. Ancaman risikonya adalah prepayment. Pasalnya, dilunasinya tagihan di depan --- lalu perkembangan suku bunga di pasar turun -- berpotensi menurunkan tingkat bunga yang rencananya dibayar 13% per tahun. “Tapi, saya kira kasus prepayment di Indonesia masih jarang,” ujar peraih gelar Master of Applied Finance dari The University of Melbourne, Australia itu.

Sebenarnya, produk KIK EBA sudah 12 tahun ditunggu oleh pelaku pasar modal. Namun, baru tahun ini resmi diluncurkan. Kehadiran EBA akan memberi alternatif investor ritel di pasar modal. Ada dua peluang return dari investasi KIK-EBA ini. Jika memegang KIK-EBA hingga masa investasi berakhir, pemodal berhak atas bunga 13% per tahun. Selain itu, yang menarik, produk ini bisa ditransaksikan di pasar sekunder, sehingga investor berpeluang meraih capital gains. Konsekuensinya, jika diperjualbelikan di pasar sekunder, risiko harga EBA bisa naik atau turun. Priyo menambahkan, KIK EBA ini mirip dengan produk obligasi korporasi. Jadi, tidak dijamin oleh pemerintah layaknya SUN, ORI maupun sukuk ritel.

Sementara itu, sukuk ritel merupakan surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah. Tujuan penerbitan instrumen utang ini sama dengan SUN atau ORI, yaitu menjadi sumber dana anggaran negara untuk diversifikasi pembiayaan, memperluas basis investor, mengelola pembiayaan negara dan menjamin tertib administrasi pengelolaan barang milik negara.

Suku bunga yang ditawarkan Sukuk Ritel Negara Seri SR-001 lebih tinggi ketimbang SUN. Bandingkan saja, kupon sukuk ritel 12% per tahun, sedangkan SUN sekitar 10,65%. Jangka waktu investasi sukuk ritel juga lebih pendek, yaitu tiga tahun, sedangkan masa investasi SUN tenornya 7-10 tahun.

Dibandingkan deposito, imbal hasil sukuk ritel juga lebih gede. Meski bunga deposito bisa mencapai 12%/tahun, LPS saat ini menurunkan suku bunga penjaminan menjadi 9,5%. Di sisi lain, sukuk ritel ditawarkan dengan kupon 12% per tahun yang dijamin 100% oleh pemerintah. Tidak tanggung-tanggung, pemerintah menetapkan agunan barang milik negara senilai Rp 13 triliun sebagai underlying asset sukuk ritel itu.

Betul, sukuk ritel lebih unggul dalam return dibandingkan dengan deposito. Namun, dari sisi likuiditas, sukuk ritel masih kalah dari deposito. Lihat saja, durasi investasi sukuk ritel mencapai tiga tahun, sedangkan deposito yang notabene sebagai simpanan jangka pendek, periode investasinya hanya 1-12 bulan. Selain itu, sukuk ritel menuntut nilai investasi yang lebih besar ketimbang deposito. Coba perhatikan, di sukuk ritel, minimum nilai investasinya Rp 5 juta, sedangkan deposito bisa Rp 1 juta. Toh, sukuk ritel dan deposito sama-sama unggul sebagai investasi yang dijamin oleh pemerintah, sehingga lebih aman.

Bagaimana sukuk ritel vs. reksa dana pendapatan tetap? Keduanya sama-sama berbasis obligasi. Sukuk ritel jenis obligasinya syariah, sedangkan RDPT bisa obligasi syariah atau konvensional. Bedanya, sukuk ritel dijamin pemerintah, sedangkan RDPT tidak. Perbedaan lain dari soal nilai investasi. RDPT bisa dibeli mulai harga Rp 500 ribu, sementara sukuk ritel minimal Rp 5 juta. Begitu halnya dengan masa investasi: RDPT berdurasi 1-3 tahun, sedangkan sukuk ritel tiga tahun. Untuk return, sukuk ritel kuponnya 12% per tahun, sedangkan RDPT bisa lebih tinggi atau lebih rendah alias fluktuatif.

Kalau sukuk ritel dibandingkan dengan ORI, ada persamaan dan perbedaannya. Persamaannya, keduanya jenis obligasi pemerintah yang dijamin dengan nilai investasi minimal sama-sama Rp 5 juta. Hanya saja, sukuk ritel jenisnya syariah, sedangkan ORI konvensional. Tingkat bunganya pun terpaut tipis, misalnya ORI seri 005 kuponnya 11,45% per tahun dan sukuk ritel 12% per tahun. Tenornya pun beda: ORI lima tahun, sedangkan sukuk ritel cuma tiga tahun.

Aidil Akbar Madjid mengakui sukuk ritel memiliki sejumlah keunggulan. Pertama, risikonya rendah. Sebab, sebagai obligasi pemerintah, sukuk ritel memiliki tingkat keamanan tinggi. Selama 5-7 tahun terakhir pemerintah lancar membayar kupon obligasinya dan berhasil keluar dari beban utang Dana Moneter Internasional (IMF). Ini membuktikan bahwa pemerintah RI komit untuk melunasi utang-utangnya. Kedua, sukuk ritel diterbitkan dengan akad ijarah sale & lease back yang mengacu pada prinsip syariah, sehingga bebas riba. “Bagi investor yang concern dengan masalah bunga dan tidak ingin kena riba, bisa berinvestasi di obligasi pemerintah syariah ini,” ujar perencana keuangan dari Pavillion Wealth Management ini. Yang ketiga, setelah penawaran pertama, sukuk ritel bisa diperdagangkan di pasar sekunder (over the counter).

Tak mustahil, ke depan suku ritel akan menjadi primadona. Direktur PT Trimegah Securities, Rosinu, optimistis sukuk ritel akan diminati masyarakat. Alasannya, tren suku bunga terus melandai. Apalagi, BI rate ditargetkan 7% hingga akhir 2009. Jika suku bunga rendah, harga obligasi bakal naik. Maklum, harga obligasi memang berbanding terbalik dengan suku bunga. “Agen penjual bisa mencapai total penjualan Rp 4-5 triliun,” ujarnya saat paparan publik dan peluncuran sukuk ritel akhir Januari lalu. Asal tahu saja, Trimegah termasuk salah satu dari 13 agen penjual sukuk ritel yang ditunjuk pemerintah.

Kalangan investor pun menyambut hangat kehadiran sukuk ritel. “Kalau saya melihat secara makro, produk ini bagus karena bisa menjaring dana masyarakat yang tadinya ditempatkan di deposito yang bersifat jangka pendek. Terlebih, kalau kita lihat ke depan, tren suku bunga turun, sehingga lebih bijaksana bila investor me-lock dananya untuk jangka panjang. Namun, sayang untuk pembelian di pasar perdana hanya ditujukan bagi investor ritel,” ungkap Legowo Kusumonegoro, Presdir First State Investment.

Nini Sumohandoyo sepakat dengan opini Legowo. Sebagai investor institusi, perusahaan asuransi layaknya perusahaan asset management maupun dana pensiun juga ingin memasukkan sukuk ritel ke dalam portofolionya. “Kami menyambut baik diterbitkannya sukuk ritel, karena cocok dengan prinsip investasi dalam asuransi. Sebab, sukuk ritel memiliki masa investasi menengah dengan tenor tiga tahun, sejalan dengan masa kontrak asuransi, yaitu jangka waktu menengah dan panjang. Apalagi, sukuk ritel ini dijamin 100% oleh pemerintah, sehingga tingkat risikonya menjadi rendah,” papar Direktur Komunikasi dan Pemasaran Korporat Prudential Indonesia itu.

Pemodal individu juga antusias melirik sukuk ritel. Hesti Farida, misalnya, membeli sukuk ritel senilai Rp 50 juta. Wanita yang berprofesi sebagai dokter ini berharap sukuk ritel menjadi alternatif investasi manakala kondisi ekonomi saat ini melambat dan inflasi cukup tinggi. “Soalnya, bingung mencari investasi yang aman dan return tinggi saat ini,” ujar ibu tiga anak ini. Rencananya, imbal hasil sukuk ritel ini akan disimpan untuk biaya kuliah anaknya kelak. Bagi Hesti, sukuk ritel bukanlah satu-satunya senjata untuk membiakkan duitnya. Ia juga menginjeksikan modal ke deposito dan properti (tanah, ruko dan rumah).

Strategi investasi Hesti tidak salah. Guna menyebar risiko, baik Akbar, Legowo, maupun Priyo menganjurkan diversifikasi. “Dengan diversifikasi, investasi kita lebih terkontrol,” tutur Priyo. Apalagi, bagi orang yang profil risikonya risk averse. Tidak kalah pentingnya, bagaimana menata portofolio agar tetap bertahan di kala ekonomi sulit seperti sekarang.


Riset : Sarah Ratna Herni

Sumber: www.swa.co.id

Comments
Search
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Login

CB Login

 

Who's The Star

Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010

Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ...

Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010

Build Your Dream (BYD) : Wang Chuanfu

Tanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang...

Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010

Marni: Pengrajin Sulam Usus Lampung

Manusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su...

Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010

feed image