Personal Finance

Utang bagi para profesional

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,13/task,userProfile/user,62/">Eko Endarto</a>   
Selasa, 27 Januari 2009 23:26

Berbagai macam produk dikembangkan oleh perbankan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Salah satu komponen di masyarakat adalah para profesional. Kredit profesi adalah salah satu produk yang dikeluarkan dengan tujuan khusus membantu perkembangan usaha dari profesional dalam menjalankan profesinya. Dibuat untuk beberapa profesi khusus yang memang dirasa memiliki prospek baik untuk dapat berkembang pada masa datang, perbankan mencoba untuk menawarkannya kepada para profesional.

Beberapa profesi yang bisa dibiayai adalah yang bergerak di bidang kedokteran, keuangan, hukum dan bahkan beberapa bank ada yang menyediakan khusus untuk profesi guru dan TNI.

Syarat utama untuk mendapatkan pinjaman ini tentunya berprofesi seperti yang ditentukan. Kredit ini biasanya dibuat dengan persyaratan relatif lunak karena profesi yang dipilih telah diteliti memiliki prospek bagus ke depan untuk dapat membayar kewajibannya.

Tidak semua orang yang berprofesi seperti ditentukan bisa menikmati fasilitas ini. Sebab ada syarat yang harus dipenuhi seperti lamanya praktik atau menjalankan usaha, besaran omzet dan pengalaman si peminjam sebagai profesional.

Sama seperti usaha, tidak ada salahnya seorang profesional menggunakan utang sebagai sarana untuk mendapatkan tambahan dana guna perkembangan usahanya. Namun, aturan dasarnya masih tetap sama. Utang tersebut akan sangat membantu selama dana yang diperoleh bisa digunakan untuk meningkatkan omzet bulanan si peminjam dan besaran kenaikan omzet tersebut minimal sama dengan besaran bunga pinjaman yang menjadi kewajibannya.

Mega Medika

Salah satu bank yang terang-terangan mengeluarkan pinjaman profesi adalah Bank Mega dengan produk Mega Medika. Dari nama yang diusung, pastinya kita sudah bisa menduga untuk profesi apa kredit ini dibentuk. Kredit ini memang dikhususkan bagi mereka yang berkecimpung di dunia kesehatan terutama dokter spesialis dan dokter gigi. Kredit ini menyasar para dokter spesialis ataupun dokter gigi yang untuk mengembangkan karier profesionalnya membutuhkan peralatan khusus yang tidak murah.

Karena ditujukan untuk pembelian atau pengadaan barang modal berupa peralatan kesehatan, peralatan tersebut yang akan menjadi jaminan dari pinjaman tersebut. Jadi hampir sama dengan KPR, rumah yang dibeli adalah jaminan utama yang diserahkan kepada bank. Untuk keamanan bank, mereka tentunya juga tidak mau berisiko terlalu besar. Untuk mereka yang hanya menjaminkan peralatan modal yang dibelinya sebagai jaminan, maka besaran dana yang diberikan oleh Bank Mega adalah 60% - 80% dari total harga barang modal tersebut. Artinya Anda harus punya dana 20% - 40% sebelum fasilitas ini disetujui, seperti down payment dalam KPR.

Kita juga bisa menambahkan jaminan lain sebagai tambahan dalam transaksi ini. Artinya, Anda tidak perlu memiliki dana tunai, jadikan saja aset Anda yang lain sebagai jaminan, misalnya, mobil, tanah, rumah, dan sebagainya.

Nah, kalau ini yang dipilih, Bank Mega bersedia mendanai sebesar 100% dari harga kebutuhan pembelian barang modal itu. Namun, dengan satu syarat; total jaminannya yaitu barang yang dibeli dan jaminan tambahannya nilainya harus 170% dari nilai pinjamannya cukup tinggi juga.

Plafon yang diberikan Rp25 juta sampai dengan Rp500 juta. Dengan jangka waktu pinjaman 1 - 5 tahun maksimal. Seperti juga syarat kredit lain, usia si pengambil kredit harus maksimal 65 tahun saat pinjaman selesai.

Karena ini adalah kredit profesi jangan heran bila persyaratan yang menunjukkan status pekerjaan dan riwayat pekerjaan Anda akan diminta seperti SK pengangkatan, keterangan izin praktik, rekomendasi dari tempat kerja dan sebagainya.

Satu lagi, rasio angsuran Anda terhadap penghasilan maksimal 35%. Artinya, besaran angsuran maksimal adalah 35% dari total penghasilan Anda dan istri.

Bank Bumiputera

Tidak banyak kredit profesi yang ditawarkan, karena memang risikonya juga cukup besar. Bank lain yang juga mengeluarkan produk ini walaupun tidak 100% mengatakan kredit profesi adalah Bank Bumiputera. Pinjaman ini dinamakan KTA Professional atau kredit tanpa agunan profesional.

Seperti namanya, produk ini memang tanpa agunan dan diperuntukkan bagi para profesional khusus yaitu dokter, akuntan dan notaris. Jadi cukup beragam profesi yang bisa menggunakan fasilitas ini.

Kelebihan lain produk ini adalah tidak hanya dokter spesialis yang bisa merasakan produk ini. Kalau memang dibutuhkan seorang dokter umum pun bisa mendapatkannya. Namun, tentunya ada syarat khusus yang menyertai seperti harus memiliki pengalaman 5 tahun sebagai dokter spesialis dan untuk dokter umum harus berpengalaman minimal 8 tahun. Bank Bumiputera mematok angka 60 tahun maksimal bagi peminjam saat pinjamannya lunas.

Untuk akuntan dan notaris, syaratnya hampir sama, tetapi ada kekhususan yaitu memiliki kerja sama dengan bank (biasanya untuk notaris) dan perusahaan (biasanya untuk akuntan).

Besaran plafon pinjaman adalah minimal Rp100 juta dan maksimal Rp150 juta. Jangka waktu standar 1 - 5 tahun. Karena sifatnya adalah kredit tanpa agunan, maka seperti juga produk KTA lainnya, penggunaan dana hasil pinjaman memang tidak dibatasi hanya untuk pengembangan usaha. Jadi, si peminjam boleh kok menggunakannya untuk tujuan lain bahkan untuk tujuan konsumtif seperti biaya sekolah, liburan dan lain sebagainya.

Namun, karena ini adalah produk tanpa agunan maka harus diperhatikan bunga yang dikenakan yang lebih tinggi daripada pinjaman biasa karena risiko yang diterima bank juga tinggi. Sama seperti Bank Mega, rasio cicilan maksimal 35% dari penghasilan.

Sumber : bisnis.com

 

Krisis Ubah Perilaku Konsumen

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,13/task,userProfile/user,62/">Administrator</a>   
Kamis, 22 Januari 2009 17:56
krisisKrisis keuangan global mungkin telah memaksa banyak orang menunda liburan impiannya. Namun, konsumen rupanya masih mau membelanjakan uang untuk barang yang dianggap penting, yaitu produk kecantikan dan perawatan kesehatan. Sebuah survei internasional oleh perusahaan riset pasar, Synovate, memperlih…
 

Saatnya Berhemat

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,13/task,userProfile/user,62/">Administrator</a>   
Kamis, 22 Januari 2009 17:54

Penghematan selama ini selalu diidentikkan dengan pengurangan biaya, pemangkasan pos pengeluaran. Istilahnya mengencangkan ikat pinggang. Penghematan juga lebih sering dihubungkan dengan sikap pelit. Tidak heran banyak orang yang alergi dengan kata itu dan menganggapnya memalukan.

Bahkan jika dilakukan dalam kerangka perencanaan keuangan sekalipun, orang tetap saja enggan melakukan penghematan. Tampaknya ide mengurangi pembelanjaan demi meningkatkan kekuatan menabung nyaris mustahil diterapkan.

Padahal uang hasil penghematan bisa dialokasikan untuk mempersiapkan masa depan yang sejahtera. Karena itu harus dijaga agar jangan sampai berlebihan dalam melakukannya sehingga Anda tidak terjebak dalam kekikiran.

Coba Anda jawab pertanyaan ini untuk mengetahui apakah Anda termasuk tipe pembelanja yang hemat atau sebenarnya pelit. Mobil Anda akhirnya benar-benar rusak, sudah tidak bisa dipakai lagi. Apa yang akan Anda lakukan?

A. Mulai mencari berbagai model mobil yang sesuai dengan kebutuhan dan bujet Anda dan membandingkan kelebihan dan kekurangannya satu sama lain. Ketika sudah menjatuhkan pilihan, Anda berusaha mencari penawaran harga mobil dan pembiayaan terbaik.

B. Mencari mobil bekas yang masih bergaransi dengan indikator kilometer terpendek, sehingga tidak perlu keluar banyak uang untuk mengendarai mobil baru.

C. Bersepeda atau naik bus, walaupun menyulitkan mobilitas Anda dan sebenarnya Anda mampu membeli mobil.

Jawaban yang Anda pilih bisa mengindikasikan kecenderungan sikap hemat atau pelit. Jika Anda memilih jawaban A, artinya Anda cukup cermat mengatur uang dan bangga dengan hal itu. Sementara jika Anda memilih jawaban B, maka untuk hal tertentu Anda berhemat sedikit lebih banyak dari yang seharusnya, tetapi secara umum tidak pelit.

Nah, kalau Anda memilih jawaban C, tampaknya Anda memiliki alasan yang benar-benar kuat sehingga mau melewati batas kenyamanan, hati-hati Anda bisa dicap pelit.

Orang bilang hemat dan pelit beda tipis. Walaupun penghematan bertujuan baik, ia dengan mudahnya berubah menjadi 'terlalu hemat' yang berujung kekikiran dengan segala keburukannya. Namun, ini sangat bergantung pada bagaimana penghematan yang Anda lakukan membawa dampak baik atau buruk pada orang lain.

Hemat atau pelit terkadang juga bergantung pada bagaimana kita memandangnya. Misalnya, pandangan skeptis menyatakan bahwa pelit sebenarnya sebutan untuk orang hemat, apalagi jika perilakunya tersebut kurang disukai atau berlawanan dengan kebiasaan umum, orang-orang di sekitarnya atau lingkungannya.

Meskipun begitu pada dasarnya sikap hemat bisa jadi dan sering kali menjadi sebuah kebajikan, sebab menjaga Anda untuk bersikap hati-hati dan tidak boros dengan uang Anda.

Kekikiran adalah sifat buruk dan menghembuskan unsur jahat. Kata pelit sendiri 'menyiratkan pertanda kurangnya kedermawanan'. Pelit sering kali meminta atau menyimpan untuk kepentingan diri sendiri ketika kebanyakan orang justru terdorong untuk memberi.

Cegah kekikiran

Sifat pelit tidak pernah menjadi urusan diri sendiri tanpa membawa dampak pada lingkunganya. Garis besarnya begini, 'hemat adalah tindakan yang perlu saya lakukan untuk memiliki gaya hidup sesuai dengan kemampuan saya, sedangkan kikir adalah memaksa orang lain untuk mengikuti penghematan ala saya.'

Kalau kita amati tindakan kekikiran yang dilakukan oleh orang yang pelit seringkali terbukti merugikan orang lain. Seseorang yang kikir bisa pingsan jika harus memberikan tips kepada pelayan, berusaha keras mengembalikan barang-barang yang dibelinya setelah memakainya dan hobinya mengingatkan orang pada sedekah yang telah dia berikan.

Dia melakukan segala sesuatu untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya dan orang lain yang membayarnya. Kalaupun bersedekah dia memastikan orang lain mengingatnya.

Tidak bisa dipungkiri, dorongan untuk berhemat bisa ditunggangi dengan kekikiran. Untuk mencegahnya masukkanlah penghematan dan kedermawanan ke dalam bujet Anda. Syaratnya adalah dengan melakukan prioritas penggunaan uang agar total pembelanjaan tidak lebih dari penghasilan kita, inilah konsep berhemat yang sesungguhnya.

Dengan prioritas, kita menyaring apa yang perlu kita bayar dan mana yang kita tinggalkan. Termasuk anggaran beramal sekalipun perlu dianggarkan. Sebab nyaris tidak mungkin bagi Anda untuk mendermakan semua uang.

Saat seseorang menuduh Anda pelit, atau Anda sendiri merasa ragu apakah Anda memang benar seperti yang dituduhkan. Yang harus Anda pahami adalah bahwa pada dasarnya segala sesuatu memiliki definisi. Karena itu ada garis yang jelas yang membatasi antara melakukan penghematan dan pelit. Jika Anda sulit menemukan batasan- batasan tersebut, saran berikut ini mungkin bisa membantu Anda:

Evaluasi konsep kedermawanan. Ingat-ingat kembali kapan terakhir Anda harus berbagi, beramal, atau memberikan uang persenan/tip. Apa yang melatarbelakanginya, apa yang mendorong Anda melakukannya? Selami kembali perasaan Anda saat itu. Bagaimana dengan saat ini, akankah Anda melakukannya dengan cara yang berbeda? Jika Anda dituntun oleh semangat kedermawanan, pilihan Anda seharusnya sejalan dengan kata hati Anda.

Jika Anda merasa gusar, tidak terima, bahkan nyaris naik darah dengan 'konsep kedermawanan', mungkin sudah saatnya Anda mencari jawaban mengapa Anda merasa demikian, kepada apa atau kepada siapa sebenarnya Anda tujukan penolakan tersebut.

Buat perbandingan keadilan. Sudahkah saya berlaku adil? Apakah Anda memperlakukan orang lain sejalan dengan seperti apa Anda ingin diperlakukan? Atau apakah Anda melakukan sesuatu kepada orang lain yang Anda sendiri tidak ingin diperlakukan seperti itu? Apakah orang lain terpaksa harus membayar sementara Anda yang mendapatkan manfaatnya?

Anggaran dan kedua saran di atas mudah-mudah dapat membantu Anda membangun konsep penghematan dan kedermawanan Anda sendiri. Dengannya Anda tetap bisa memprioritaskan apa yang terbaik untuk Anda, tetapi dapat menjauhkan Anda dari segala bentuk kekikiran.

 

Sumber : http://web.bisnis.com/kolom/2id1885.html

 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 6 dari 6

Login

CB Login

 

Who's The Star

Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010

Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ...

Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010

Build Your Dream (BYD) : Wang Chuanfu

Tanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang...

Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010

Marni: Pengrajin Sulam Usus Lampung

Manusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su...

Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010

feed image