|
Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,11/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>
|
|
Rabu, 28 Oktober 2009 15:51 |
BAGI sebagian umat hingga kini masih ada keraguan untuk memilih instrumen investasi. Keraguan itu tidak hanya bersumber dari tingkat risiko dan imbal hasil yang akan diterima dari setiap instrumen investasi, tetapi juga berkaitan dengan masalah syariah, halal dan haram.
Maklum hingga saat ini, dunia investasi --terutama di industri keuangan-- masih sering dihadapkan oleh sikap masyarakat yang masih terpolarisasi diantara pemikiran tradisional, konvensional dan modern. Sebuah contoh yang sederhana adalah soal bunga bank atau bunga deposito. Masih ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa bunga bank tidak sesuai dengan syariah, mengandung riba dan tidak halal.
Kelompok masyarakat yang memiliki pemikiran seperti ini sudah barang tentu tidak akan menyimpan uangnya di bank. Mereka lebih suka, merasa aman dan nyaman menyimpan uangnya di 'bawah bantal' kendati uang itu menjadi tidak berkembang sama sekali. Ini hanya contoh kecil yang sederhana. Nah, disisi lain jumlah masyarakat yang memiliki pemikiran dogmatis seperti ini tidak sedikit.
Aset mereka jika diakumulasi mencapai jumlah yang amat besar. Makanya jangan heran jika lebih dari satu dasawarsa lalu dunia bisnis dan investasi mulai mencari jalan keluar agar bisa memanfaatkan dana di bawah bantal yang berlimpah tersebut. Konsep bisnis syariah, instrumen investasi syariah muncul di mana-mana, tidak hanya di negara yang penduduknya beragama Islam.
Di negara kapitalis yang penduduk muslimnya minoritas juga tumbuh bisnis atau instrumen investasi berbasis syariah. Para pengelola dana rupanya sadar betul bahwa potensi dana yang dimiliki umat muslim di seluruh dunia amat berlimpah. Dari Timur Tengah --pusat umat muslim dunia-- misalnya, gemerincing uang minyak seolah tidak pernah habis. Belum lagi di belahan bumi lainnya.
Di Indonesia saja --penduduknya yang sebagian besar muslim-- menyimpan dana yang sangat besar. Karenanya jangan heran kalau mulai banyak ditawarkan produk-produk investasi berbasis syariah. Produk investasi berbasis syariah berarti produk investasi itu sesuai dengan kaidah-kaidah yang diterapkan oleh syariah. Umat Islam kini semakin mudah untuk mendapatkan instrumen investasi tanpa kuatir dan ragu. Di pasar modal, istilah syariah sudah dikenal cukup lama.
Bahkan, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyediakan indeks khusus saham berbasis syariah yang dikenal dengan Jakarta Islamic Indeks (JII). Saham yang masuk dalam perhitungan JII adalah saham-saham yang memang berbasis syariah. Namun begitu, tidak semua saham berbasis syariah masuk dalam perhitungan indeks syariah. Semakin lama, instrumen investasi berbasis syariah semakin popular di masyarakat.
Di kalangan perbankan mulai muncul bank syariah. Bahkan bank-bank konvensional mulai banyak yang mengeluarkan produk syariah. Sebagian lain bahkan mendirikan anak usaha berbasis syariah. Kecenderungan seperti itu tidak hanya terjadi di perbankan. Dalam industri Pasar Modal, produk syariah semakin menemukan jati dirinya.
Di kalangan perusahaan manajer investasi atau pengelola dana misalnya, sudah banyak yang menerbitkan rekasa dana syariah. Negara pun kini tidak hanya menerbitkan obligasi negara konvensional, tetapi juga menerbitkan instrumen investasi berbasis syariah seperti obligasi syariah atau yang dikenal dengan istilah sukuk.
Dijamin oleh Peraturan
Otoritas baik di perbankan, asuransi maupun pasar modal juga sangat sadar bahwa produk berbasis syariah semakin diminati masyarakat. Mengenai hal ini, Bapepam-LK memiliki peraturan yang cukup lengkap. Beberapa peraturan yang berkaitan dengan produk syariah ini misalnya, Peraturan Bapepam-LK Nomor II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah (DES).
Juga Peraturan Bapepam-LK Nomor IX.A.13 tentang Penerbitan Efek Syariah. Peraturan ini berisi bagaimana reksadana syariah harus mengelola investasinya. Dana kelolaan reksa dana syariah hanya dapat diinvestasikan pada efek yang tercantum dalam daftar efek syariah (DES).
Dalam Peraturan Nomor II.K.1 disebutkan bahwa DES adalah kumpulan efek yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah di pasar modal yang ditetapkan oleh Bapepam-LK atau pihak lain yang diakui Bapepam- LK. Setidaknya ada 6 (enam) instrumen investasi yang masuk dalam DES,yakni : Surat berharga syariah yang diterbitkan oleh negara atau dikenal dengan istilah Surat Berharga Syariah Negara atau Sukuk Negara.
Efek yang diterbitkan oleh emiten atau perusahaan publik yang menyatakan bahwa kegiatan usaha serta tata cara pengelolaan usahanya dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip syariah sebagaimana tertuang dalam AD sang emiten. Sukuk yang diterbitkan oleh emiten atau perusahaan publik, termasuk obligasi syariah. Efek Beragun Aset (EBA) syariah.
Efek berupa saham, termasuk Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) syariah dan waran syariah. Efek syariah yang diterbitkan di luar negeri yang memenuhi prinsip-prinsip syariah di pasar modal. Dengan adanya peraturan tersebut, masyarakat mendapat jaminan bahwa efek yang masuk dalam DES benar-benar efek yang halal untuk investasi. (Tim BEI)(Koran SI/Koran SI/jri)
|
|
Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,11/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>
|
|
Selasa, 27 Oktober 2009 23:33 |
Perbankan nasional sedang marak menerbitkan obligasi subordinasi (subdebt) mulai akhir tahun ini hingga tahun depan. Rata-rata perbankan nasional akan mengalokasikan subdebt tersebut untuk menjaga rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) di atas delapan persen.
"Kami sedang menjajaki penerbitan obligasi subordinasi senilai USD150 juta di awal 2010. Saat ini rencana tersebut sedang diajukan ke Bank Indonesia untuk mendapatkan persetujuan," ungkap Presiden Direktur BII Ridha Wirakusumah di Jakarta (22/10).
Dia menjelaskan pada 28 April tahun depan, BII akan membayar call option obligasi subordinasi yang jatuh tempo senilai USD150 juta. Sebenarnya dana untuk membayar call option obligasi tersebut sudah disiapkan melalui kas internal dan pinjaman. Namun Ridha mengaku jika menggunakan kas internal, rasio kecukupan modal BII bisa turun menjadi sekira 15 persen.
Perseroan bisa saja memutuskan tidak mengeksekusi call option obligasi yang jatuh tempo. Namun, call option obligasi subordinasi BII kalau tidak dieksekusi akan menyebabkan perseroan menanggung kenaikan beban bunga.
"Kupon obligasi BII sebelum jatuh tempo call option adalah sebesar 7,75 persen. Tetapi kalau tidak dieksekusi kupon obligasi tersebut bakal naik hingga lebih dari 10 persen. Jadi, BII merasa rugi kalau tidak mengambil opsi tersebut. Sementara kinerja BII hingga September 2009 ini sudah membaik dari awal tahun lalu," ungkapnya.
Obligasi subordinasi menjadi alternatif di kalangan bank untuk menggenjot rasio kecukupan modal. Separuh dari hasil penerbitan obligasi, dapat digunakan untuk masuk ke modal lapis kedua bank (tier dua) sehingga rasio kecukupan modal suatu bank meningkat.
"Saat ini posisi CAR BII hingga September 2009 sebesar 19,42 persen, sangat jauh dari ketentuan BII yang cuma delapan persen," tambahnya.
Sementara Bank Mandiri memastikan akan menerbitkan obligasi subordinasi (subdebt) berdenominasi rupiah senilai Rp3 triliun-Rp5 triliun pada akhir November 2009 ini. Sayang, kepastian jumlah dan besar suku bunga surat utang itu belum ditentukan. "Jumlahnya belum final namun berkisar antara Rp3 triliun-Rp5 triliun," ungkap Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo.
Agus mengaku, bunga subdebt masih di atas bunga deposito yaitu di kisaran 6-8 persen. Sehingga, potensi diserap pasar akan cukup besar. Hal itu akan merangsang minat masyarakat untuk mencari alternatif investasi yang aman dalam bentuk subdebt selain deposito.
Dengan penerbitan subdebt tersebut maka CAR Bank Mandiri diharapkan bisa meningkat sedikitnya 1,5-2 persen. Per Juni 2009, CAR Bank Mandiri ini berada di kisaran 14,1 persen. Pada awal tahun nanti diharapkan bisa tembus mencapai 16 persen.
Sedangkan Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga akan menerbitkan obligasi subordinasi sekira Rp2 triliun tahun depan. Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk menaikkan CAR perseroan.
"Kami akan menerbitkan obligasi subordinasi sekira Rp2 triliun. Namun jika kondisi bagus kami akan menaikkannya menjadi Rp3 triliun," ungkap Direktur Utama BRI Sofyan Baasir.
BRI lebih memundurkan penerbitan subdebt tersebut di tahun depan karena diperkirakan tingkat suku bunga deposito dan suku bunga acuan Bank Indonesia akan turun.
Sofyan mengaku tingkat penurunan suku bunga pinjaman dan BI rate belum turun secara maksimal. Sehingga BRI optimis suku bunga tersebut akan turun tahun depan. Sementara posisi CAR BRI per Juni 2009 sebesar 14,7 persen dan akan ditingkatkan pula menjadi 16 persen.
"Diperkirakan tahun depan suku bunga pinjaman akan turun maksimal sehingga penerbitan subdebt akan lebih bagus sekitar bulan Maret hingga Juni atau sekitar kuartal II/2010," lanjut Sofyan. (Didik Purwanto/Koran SI/ade)
|
|
|
Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,11/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>
|
|
Minggu, 18 Oktober 2009 08:49 |
|
Citibank terpilih sebagai Penerbit Kartu Kredit Terbaik, Penerbit Kartu Paling Terpercaya dan Kartu Kredit Premium Terbaik di Asia Tenggara, sebagai bagian dari Lafferty Asia Payment Cards Awards 2009. Penyelenggaraan penghargaan Lafferty ini merupakan yang pertama kalinya di kawasan Asia Tenggara. Selain independen, penghargaan ini juga didasarkan pada jajak pendapat 5.000 konsumen yang memegang dan menggunakan kartu pembayaran di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Selain itu, Citibank juga meraih penghargaan di Indonesia untuk Kartu Kredit Premium Terbaik dan Inovasi Produk Terbaik untuk kartu kredit CitiCash Back. Di Malaysia Citi meraih predikat Penerbit Kartu Terbaik, Program Rewards Terbaik untuk Citibank World Privileges, dan Inovasi Produk Terbaik untuk kartu kredit Citibank-Shell. Di Filipina, meraih Produk Baru Terbaik untuk kartu kredit Citibank-Rustan, sedangkan di Singapura sebagai Produk Baru Terbaik untuk kartu kredit Citibank Dividend Signature. Shirish Apte, CEO Citi Asia Pasifik, mengatakan Citi akan terus berkomitmen memenuhi kebutuhan spesifik nasabah, menyajikan pengalaman unik serta perlindungan ketika mereka menggunakan kartu Citibank. Para konsumen juga memberikan pengakuan atas teknologi mutakhir yang bank ini gunakan untuk meningkatkan interaksi mereka dengan kami. “Tanggapan dari nasabah akan memicu kami untuk terus berupaya memenuhi kebutuhan dan menjadi kartu pilihan mereka di wilayah ini,” katanya. Jajak pendapat konsumen ini menggunakan metodologi riset online di mana para responden diminta untuk menilai produk kartu yang dikeluarkan di negara mereka, kartu yang mereka miliki dan produk produk yang mereka ketahui. Penghargaan regional ini didasarkan pada rata-rata yang diambil dari penilaian individual konsumen di setiap negara. “Kemenangan Citibank secara regional adalah hasil dari tingginya peringkat Citi di setiap negara, sebab penghargaan regional ini didasarkan pada penilaian rata-rata di tiap negara. Citibank jelas merupakan penerbit kartu dengan positioning terbaik di Asia Tenggara yang menawarkan produk kartu yang lengkap dan tersegmentasi dengan baik,” ungkap Michael Lafferty, Chairman Lafferty Group
Sumber: Swa.co.id
|
|
Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,11/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>
|
|
Selasa, 13 Oktober 2009 16:18 |
Bank Mandiri masih kokoh di peringkat pertama sebagai bank dengan aset terbesar di Indonesia. Nilai aset bank pelat merah ini per Agustus 2009 mencapai Rp 346,124 triliun atau naik dari Rp 349,181 triliun dibandingkan setengah tahun sebelumnya.
Sementara itu, Bank CIMB Niaga berhasil menggeser Bank Danamon dari peringkat 5 dari daftar 10 besar bank dengan aset terbesar per Agustus 2009 yang di rilis Bank Indonesia, kemarin.
Selain itu, Bank Rakyat Indonesia juga berhasil mempertahankan posisinya di peringkat kedua dari kejaran Bank Central Asia. BRI merebut posisi kedua dari BCA pada Desember 2008. Total nilai aset 10 bank pada Agustus 2009 naik menjadi Rp 1.514,444 triliun dibandingkan aset pada Desember 2008, Rp 1,437,567 triliun.
Mayoritas bank yang termasuk ke dalam daftar ini mengalami kenaikan aset, kecuali Danamon dan Citibank yang justru turun.
Berikut daftar 10 Bank dengan aset terbesar di Indonesia : 1. PT Bank Mandiri Tbk Rp 346,124 triliun. 2. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Rp 268,700 triliun, naik dari Rp 250,134 Desember 2008. 3. PT Bank Central Asia Tbk Rp 266,202 dari Rp 246,702 triliun (Desember 2008). 4. PT Bank Negara Indonesia Tbk Rp 204,364 triliun dari Rp 200,974 triliun. 5. PT CIMB Niaga Tbk Rp 100,496 triliun dari Rp 69,305 triliun. 6. PT Bank Danamon Indonesia Tbk Rp 97,161 turunn dari Rp 104,842 triliun. 7. PT Pan Indonesia Bank Tbk Rp 69,671 triliun dari Rp 63,628 triliun. 8. PT Bank Permata Tbk Rp 54,381 dari Rp 54,220 triliun. 9. PT Bank Internasional Indonesia Tbk Rp 54,291 triliun dari Rp 54,068 triliun. 10. Citibank NA Rp 53,055 triliun dari Rp 53,503 triliun.
|
|