Menyimak Portofolio Syariah

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,2/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Rabu, 28 Oktober 2009 15:51
BAGI sebagian umat hingga kini masih ada keraguan untuk memilih instrumen investasi. Keraguan itu tidak hanya bersumber dari tingkat risiko dan imbal hasil yang akan diterima dari setiap instrumen investasi, tetapi juga berkaitan dengan masalah syariah, halal dan haram.

Maklum hingga saat ini, dunia investasi --terutama di industri keuangan-- masih sering dihadapkan oleh sikap masyarakat yang masih terpolarisasi diantara pemikiran tradisional, konvensional dan modern. Sebuah contoh yang sederhana adalah soal bunga bank atau bunga deposito. Masih ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa bunga bank tidak sesuai dengan syariah, mengandung riba dan tidak halal.

Kelompok masyarakat yang memiliki pemikiran seperti ini sudah barang tentu tidak akan menyimpan uangnya di bank. Mereka lebih suka, merasa aman dan nyaman menyimpan uangnya di 'bawah bantal' kendati uang itu menjadi tidak berkembang sama sekali. Ini hanya contoh kecil yang sederhana. Nah, disisi lain jumlah masyarakat yang memiliki pemikiran dogmatis seperti ini tidak sedikit.

Aset mereka jika diakumulasi mencapai jumlah yang amat besar. Makanya jangan heran jika lebih dari satu dasawarsa lalu dunia bisnis dan investasi mulai mencari jalan keluar agar bisa memanfaatkan dana di bawah bantal yang berlimpah tersebut. Konsep bisnis syariah, instrumen investasi syariah muncul di mana-mana, tidak hanya di negara yang penduduknya beragama Islam.

Di negara kapitalis yang penduduk muslimnya minoritas juga tumbuh bisnis atau instrumen investasi berbasis syariah. Para pengelola dana rupanya sadar betul bahwa potensi dana yang dimiliki umat muslim di seluruh dunia amat berlimpah. Dari Timur Tengah --pusat umat muslim dunia-- misalnya, gemerincing uang minyak seolah tidak pernah habis. Belum lagi di belahan bumi lainnya.

Di Indonesia saja --penduduknya yang sebagian besar muslim-- menyimpan dana yang sangat besar. Karenanya jangan heran kalau mulai banyak ditawarkan produk-produk investasi berbasis syariah. Produk investasi berbasis syariah berarti produk investasi itu sesuai dengan kaidah-kaidah yang diterapkan oleh syariah. Umat Islam kini semakin mudah untuk mendapatkan instrumen investasi tanpa kuatir dan ragu. Di pasar modal, istilah syariah sudah dikenal cukup lama.

Bahkan, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyediakan indeks khusus saham berbasis syariah yang dikenal dengan Jakarta Islamic Indeks (JII). Saham yang masuk dalam perhitungan JII adalah saham-saham yang memang berbasis syariah. Namun begitu, tidak semua saham berbasis syariah masuk dalam perhitungan indeks syariah. Semakin lama, instrumen investasi berbasis syariah semakin popular di masyarakat.

Di kalangan perbankan mulai muncul bank syariah. Bahkan bank-bank konvensional mulai banyak yang mengeluarkan produk syariah. Sebagian lain bahkan mendirikan anak usaha berbasis syariah. Kecenderungan seperti itu tidak hanya terjadi di perbankan. Dalam industri Pasar Modal, produk syariah semakin menemukan jati dirinya.

Di kalangan perusahaan manajer investasi atau pengelola dana misalnya, sudah banyak yang menerbitkan rekasa dana syariah. Negara pun kini tidak hanya menerbitkan obligasi negara konvensional, tetapi juga menerbitkan instrumen investasi berbasis syariah seperti obligasi syariah atau yang dikenal dengan istilah sukuk.

Dijamin oleh Peraturan

Otoritas baik di perbankan, asuransi maupun pasar modal juga sangat sadar bahwa produk berbasis syariah semakin diminati masyarakat. Mengenai hal ini, Bapepam-LK memiliki peraturan yang cukup lengkap. Beberapa peraturan yang berkaitan dengan produk syariah ini misalnya, Peraturan Bapepam-LK Nomor II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah (DES).

Juga Peraturan Bapepam-LK Nomor IX.A.13 tentang Penerbitan Efek Syariah. Peraturan ini berisi bagaimana reksadana syariah harus mengelola investasinya. Dana kelolaan reksa dana syariah hanya dapat diinvestasikan pada efek yang tercantum dalam daftar efek syariah (DES).

Dalam Peraturan Nomor II.K.1 disebutkan bahwa DES adalah kumpulan efek yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah di pasar modal yang ditetapkan oleh Bapepam-LK atau pihak lain yang diakui Bapepam- LK. Setidaknya ada 6 (enam) instrumen investasi yang masuk dalam DES,yakni : Surat berharga syariah yang diterbitkan oleh negara atau dikenal dengan istilah Surat Berharga Syariah Negara atau Sukuk Negara.

Efek yang diterbitkan oleh emiten atau perusahaan publik yang menyatakan bahwa kegiatan usaha serta tata cara pengelolaan usahanya dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip syariah sebagaimana tertuang dalam AD sang emiten. Sukuk yang diterbitkan oleh emiten atau perusahaan publik, termasuk obligasi syariah. Efek Beragun Aset (EBA) syariah.

Efek berupa saham, termasuk Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) syariah dan waran syariah. Efek syariah yang diterbitkan di luar negeri yang memenuhi prinsip-prinsip syariah di pasar modal. Dengan adanya peraturan tersebut, masyarakat mendapat jaminan bahwa efek yang masuk dalam DES benar-benar efek yang halal untuk investasi. (Tim BEI)(Koran SI/Koran SI/jri)
 

Kapan sebaiknya menjual Saham?

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,2/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Selasa, 27 Oktober 2009 23:55

Kapan kita sebaiknya menjual saham, kadang-kadang kita tidak tahu kalau harga saham kita lagi bagus. Kita baru tahu, setelah beberapa hari, namun pada saat mau dijual, harga sahamnya sudah turun.

Jawaban:

Sebaiknya saham dijual saat harganya sudah melampaui dari nilai wajarnya. Nilai saham atau target harga bisa dikonsultasikan melalui analisa fundamental dan analisa teknikal. Pada analisa fundamental, target harga tersebut umumnya ada di setiap laporan riset yang dikeluarkan oleh perusahaan sekuritas.

Setiap perusahaan sekuritas tentunya memiliki pandangan tersendiri mengenai prospek suatu saham dan maka dari itu target harga yang dikeluarkan oleh setiap perusahaan sekuritas berbeda. Kadangkala perbedaan tersebut sangat ekstrem, sehingga sebaiknya Anda berpatokan pada rata-rata target harga dari emiten tersebut.

Untuk analisa teknikal, target harga bisa didapatkan melalui analisa grafik (charting). Pada umumnya broker di perusahaan sekuritas memiliki kemampuan untuk melakukan analisa teknikal sehingga bisa memberikan target harga atau merekomendasikan kapan menjual atau membeli suatu saham.

Sebaiknya saham dijual saat harganya sudah melampaui dari nilai wajarnya. Nilai wajar suatu saham atau target harga bisa dikonsultasikan melalui analisa fundamental dan analisa teknikal.  Banyak analis/investor yang berpandangan hanya kepada analisa fundamental dan mengabaikan analisa teknikal.  Tetapi ada baiknya jika kedua metode tersebut digabungkan untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas.  Ada baiknya jika analisa fundamental digunakan untuk menjawab pertanyaan "saham apa yang harus dibeli atau dijual?" dan analisa teknikal untuk menjawab pertanyaan "kapan saham tersebut bisa dibeli atau dijual?"

Sumber: www.okezone.com

 

Bagaimana memulai Reksadana

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,2/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Selasa, 27 Oktober 2009 23:51

Apa yang harus dilakukan bila ingin mulai berinvestasi di Reksadana?

Jika berkeinginan berinvetasi di reksadana , sebaiknya Anda berinvetasi pada reksadana yang terdaftar di Bapepam LK.  Silahkan mengunjungi situs Bapepam di www.bapepam.go.id.

Saya tidak dapat secara langsung merekomendasikan reksadana ekuiti yang sebaiknya dibeli.  Melalui situs bapepam tersebut Anda juga dapat mendapatkan data kinerja dari seluruh reksadana yang terdaftar di Bapepam.

Secara sekilas, reksadana pada awalnya dimulai pada nilai aset bersih (NAB) sebesar 1.000.  Jika ada reksadana yang saat ini memiliki NAB jauh di atas 1.000 maka merupakan salah satu ukuran bahwa manajer investasinya memiliki kinerja masa lampau yang cukup baik.

Tetapi harus diingat bahwa kinerja manajer investasi di masa lalu bukan merupakan tolok ukur terhadap kinerjanya di masa yang akan datang. Reksadan equity menjanjikan keuntungan yang lebih tinggi diantara reksadana-reksadana jenis lainnya tetapi juga memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi pula.

Sebagai tambahan, hati-hati terhadap pemasar reksadana yang menjanjikan suatu angka keuntungan tertentu dan memberikan jaminan bahwa anda tidak bisa merugi.  Investasi awal anda di reksadana terutama pada reksadana equity dapat turun seiring dengan kondisi perekonomian Indonesia dan dunia.

 

Sumber: www.okezone.com

 

Tips Bebas Bunga Utang Kartu Kredit

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,2/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Selasa, 27 Oktober 2009 23:39

Tidak terasa, kita sudah memasuki penghujung bulan Oktober. Sudah sebulan libur Lebaran terlewati dan sekarang sudah menyongsong libur Natal dan libur akhir tahun (dua bulan lagi, bersabarlah kawan-kawan). Namun dalam sukacita kita mengingat masa-masa indah liburan kemarin atau membayangkan liburan ke depan, jangan sampai kita melupakan kewajiban-kewajiban kita semua, termasuk membayar tagihan kartu kredit dari belanja kita kemarin.

Sebagian besar dari kita kemungkinan pengguna kartu kredit. Memang, selain mempermudah belanja, menggunakan kartu kredit juga dapat membantu kita secara efektif meminjam uang selama sebulan tanpa bunga, bila kita disiplin dalam membayar tagihan. Sebaliknya, bila kita tidak disiplin, beban bunga dari kartu kredit ataupun penalti dari keterlambatan pembayaran dapat 'mencekik' keuangan Anda.

Untuk mencegah hal tersebut terjadi, kiranya Klabers bisa mencamkan sejumlah poin penting berikut:

1. Disiplin dalam penggunaan: Kartu kredit bukanlah uang ekstra. Semua pembelanjaan harus kita bayarkan bulan berikutnya apabila kita ingin tetap bebas dari beban bunga. Karena itu, gunakanlah kartu kredit untuk belanja yang sudah dianggarkan saja, yang mana kita memiliki kemampuan untuk segera melunasinya.

2.  Jangan tergoda promosi: Salah satu daya tarik menggunakan kartu kredit adalah seabreg promosi yang ditawarkan. Namun demikian, jangan sampai promosi ini mendorong Anda untuk berbelanja di luar kebutuhan, berapapun besar diskon yang ditawarkan.  Manfaatkan promosi untuk berbelanja sesuai kebutuhan dan anggaran.

3. Lunasi seluruh tagihan: Bunga kartu kredit adalah salah satu bunga tertinggi dalam sejarah perkreditan Anda. Bayangkan, dengan bunga 3% per bulan saja, bunga per tahun sudah sebesar 36%, belum memperhitungkan beban bunga yang berbunga lagi. Bila kita tidak membiasakan diri melunasi seluruh tagihan, kita dapat terjebak dalam ?~jeratan' bunga yang sulit untuk dilepaskan.

4. Perhatikan beban terkait kartu kredit: Ingat, penggunaan kartu kredit juga memiliki beban-beban yang sebelumnya mungkin tidak Anda sadari, misalnya, biaya materai dan biaya transfer via ATM. Sedapat mungkin minimalkan biaya-biaya ini dengan cara menggunakan satu kartu kredit saja dan dari bank dimana Anda memiliki tabungan/ATM untuk menghilangkan biaya transfer. Juga, ingatlah selalu tanggal jatuh tempo tagihan karena denda keterlambatan juga cukup lumayan (sekitar Rp75 ribu untuk kartu jenis gold). Bila Anda termasuk orang yang malas jalan ke ATM, aturlah supaya Anda dapat membayar lewat auto debit atau via internet. Juga, gunakan poin reward untuk membayar iuran tahunan kartu kredit.

5. Bila sudah terlanjur berutang, kurangi beban bunga secepatnya: Jika Anda sudah terlanjur berutang melebihi kemampuan membayar di bulan berikutnya, berkreasilah. Anda dapat mencoba mengurangi beban bunga yang timbul dengan cepat. Banyak penyedia kartu kredit yang menawarkan transfer balance dengan bunga 0% untuk beberapa bulan pertama. Manfaatkan tawaran ini, terutama apabila kondisi lainnya serupa (tanpa annual fee atau annual fee sama). Selain itu, lunasi beban pokok secepatnya, cobalah sampai batas kemampuan Anda. Jangan pernah melakukan pembayaran minimum jika tidak ingin menjadi hamba kreditur Anda.

Tidak sulit bukan? Sebenarnya tidak, bila Anda mau sedikit berdisiplin. Saya teringat anekdot yang mengatakan bahwa ?~salah satu perbedaan antara orang dewasa dan anak-anak adalah apakah dia membayar tagihan kartu kreditnya tepat waktu atau tidak, apakah jumlah keseluruhannya atau hanya cicilan minimum'. Maka itu, dewasalah dengan kartu kredit Anda! Gunakan dengan cerdas!

Lucky Ariesandi, CFA
Perencana keuangan independent
Director KeluargaCerdas123.com

Sumber: www.Okezone.com

 

SubDebt guna menaikan Capital Edequacy Ratio Perbankan

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,2/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Selasa, 27 Oktober 2009 23:33
Perbankan nasional sedang marak menerbitkan obligasi subordinasi (subdebt) mulai akhir tahun ini hingga tahun depan. Rata-rata perbankan nasional akan mengalokasikan subdebt tersebut untuk menjaga rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) di atas delapan persen.

"Kami sedang menjajaki penerbitan obligasi subordinasi senilai USD150 juta di awal 2010. Saat ini rencana tersebut sedang diajukan ke Bank Indonesia untuk mendapatkan persetujuan," ungkap Presiden Direktur BII Ridha Wirakusumah di Jakarta (22/10).

Dia menjelaskan pada 28 April tahun depan, BII akan membayar call option obligasi subordinasi yang jatuh tempo senilai USD150 juta. Sebenarnya dana untuk membayar call option obligasi tersebut sudah disiapkan melalui kas internal dan pinjaman. Namun Ridha mengaku jika menggunakan kas internal, rasio kecukupan modal BII bisa turun menjadi sekira 15 persen.

Perseroan bisa saja memutuskan tidak mengeksekusi call option obligasi yang jatuh tempo. Namun, call option obligasi subordinasi BII kalau tidak dieksekusi akan menyebabkan perseroan menanggung kenaikan beban bunga.

"Kupon obligasi BII sebelum jatuh tempo call option adalah sebesar 7,75 persen. Tetapi kalau tidak dieksekusi kupon obligasi tersebut bakal naik hingga lebih dari 10 persen. Jadi, BII merasa rugi kalau tidak mengambil opsi tersebut. Sementara kinerja BII hingga September 2009 ini sudah membaik dari awal tahun lalu," ungkapnya.

Obligasi subordinasi menjadi alternatif di kalangan bank untuk menggenjot rasio kecukupan modal. Separuh dari hasil penerbitan obligasi, dapat digunakan untuk masuk ke modal lapis kedua bank (tier dua) sehingga rasio kecukupan modal suatu bank meningkat.

"Saat ini posisi CAR BII hingga September 2009 sebesar 19,42 persen, sangat jauh dari ketentuan BII yang cuma delapan persen," tambahnya.

Sementara Bank Mandiri memastikan akan menerbitkan obligasi subordinasi (subdebt) berdenominasi rupiah senilai Rp3 triliun-Rp5 triliun pada akhir November 2009 ini. Sayang, kepastian jumlah dan besar suku bunga surat utang itu belum ditentukan. "Jumlahnya belum final namun berkisar antara Rp3 triliun-Rp5 triliun," ungkap Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo.

Agus mengaku, bunga subdebt masih di atas bunga deposito yaitu di kisaran 6-8 persen. Sehingga, potensi diserap pasar akan cukup besar. Hal itu akan merangsang minat masyarakat untuk mencari alternatif investasi yang aman dalam bentuk subdebt selain deposito.

Dengan penerbitan subdebt tersebut maka CAR Bank Mandiri diharapkan bisa meningkat sedikitnya 1,5-2 persen. Per Juni 2009, CAR Bank Mandiri ini berada di kisaran 14,1 persen. Pada awal tahun nanti diharapkan bisa tembus mencapai 16 persen.

Sedangkan Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga akan menerbitkan obligasi subordinasi sekira Rp2 triliun tahun depan. Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk menaikkan CAR perseroan.

"Kami akan menerbitkan obligasi subordinasi sekira Rp2 triliun. Namun jika kondisi bagus kami akan menaikkannya menjadi Rp3 triliun," ungkap Direktur Utama BRI Sofyan Baasir.

BRI lebih memundurkan penerbitan subdebt tersebut di tahun depan karena diperkirakan tingkat suku bunga deposito dan suku bunga acuan Bank Indonesia akan turun.

Sofyan mengaku tingkat penurunan suku bunga pinjaman dan BI rate belum turun secara maksimal. Sehingga BRI optimis suku bunga tersebut akan turun tahun depan. Sementara posisi CAR BRI per Juni 2009 sebesar 14,7 persen dan akan ditingkatkan pula menjadi 16 persen.

"Diperkirakan tahun depan suku bunga pinjaman akan turun maksimal sehingga penerbitan subdebt akan lebih bagus sekitar bulan Maret hingga Juni atau sekitar kuartal II/2010," lanjut Sofyan.  (Didik Purwanto/Koran SI/ade)
 

Perilaku Psikologis Investor yang membahayakan

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,2/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Jumat, 23 Oktober 2009 11:17

Jumlah transaksi investasi kian meningkat seiring dengan pulihnya kondisi perkonomian, yang membuktikan bahwa para investor telah memanfaatkan peluang ini dengan baik. Namun demikian, perlu dicermati bahwa masih terdapat beberapa perilaku psikologis investor yang mungkin dapat membahayakan investasi mereka. Perilaku tersebut diantaranya adalah herding, overtrading dan naïve diversification of investment.

Sepanjang tahun 2009, IHSG telah menunjukkan performa yang baik melalui pertumbuhan, sampai hari ini, sebesar 81,20% (per awal Oktober 2009). Citi juga mencatat pertumbuhan investasi yang sangat signifikan. Hal ini menunjukkan kuatnya pemulihan kondisi perekonomian Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Karenanya dapat dikatakan bahwa peluang berinvestasi telah kembali terbuka lebar.

“Kondisi perekonomian saat ini memberikan peluang yang baik bagi para investor dalam berinvestasi, namun beberapa perilaku investasi mereka seringkali menjadi penyebab tidak maksimalnya keuntungan yang mereka peroleh.” ujar Harsya Prasetyo, Vice President-Investment Head, Citibank N.A

Ketika dihadapkan pada sebuah ketidakpastian, manusia secara alamiah berasumsi bahwa orang lain dengan kondisi serupa akan memiliki ide yang lebih baik dibandingkan dengan ide mereka sendiri. Asumsi inilah yang menyebabkan rendahnya kepercayaan diri investor, sehingga mengakibatkan kecenderungan pembuatan keputusan yang serupa antara orang yang satu dengan yang lainnya. Dalam investasi, perilaku seperti ini dikenal dengan istilah herding.

Bagi orang-orang pada umumnya, herding mungkin terlihat seperti perilaku yang tidak masuk akal. Namun akan berbeda halnya dengan sebuah keadaan di mana keberuntungan dan keahlian sama-sama diperhitungkan, seperti halnya dalam perdagangan bursa, di mana herding menjadi suatu hal yang sepertinya memang terjadi secara alamiah.

“Beberapa dampak negatif dari perilaku herding ini adalah para investor mungkin saja melakukan jenis investasi yang sebenarnya tidak mereka pahami dan mengambil resiko yang sebenarnya tidak diperlukan. Perlu diingat bahwa suatu investasi yang berhasil di masa lalu, dan atau cocok dengan orang-orang tertentu, belum tentu akan cocok juga bagi orang yang lain,” kata Harsya mengingatkan.

Sebagai tambahan, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lopes (1987) mengindikasikan bahwa saat keahlian dan keberuntungan diperlukan secara bersamaan, maka ia akan mempunyai keinginan yang lebih tinggi untuk memegang kendali. Keinginan untuk memegang kendali disalurkan melalui frekuensi transaksi yang terlalu sering.

Namun, sebuah penelitian pada 60 ribu investor dalam kurun waktu enam tahun yang dilakukan oleh Barber and Odean, memperlihatkan bahwa menjadi terlalu aktif dalam bertransaksi dapat memberatkan index sampai 60 basis points sebelum biaya transaksi. Ironisnya, biaya transaksi dapat memangkas 240 basis points dari performa portfolio tersebut. Penelitian ini memperlihatkan bahwa walaupun berlebihan dalam bertransaksi adalah hal yang sangat manusiawi, hal itu dapat membatasi keuntungan dari berinvestasi.

Perilaku beresiko yang ketiga adalah kecenderungan investor dalam menyederhanakan pola diversifikasi investasi mereka. Bernartzi and Thaler menyimpulkan bahwa para investor seringkali menyederhanakan diversifikasi dengan membagi rata jumlah investasi mereka atas setiap produk, tanpa mempertimbangkan jenis dari investasi tersebut. ”Naive diversification seperti ini dapat membuat investor memegang portfolio yang belum cukup tingkat diversifikasinya. Selain dapat mengarahkan investor untuk memiliki produk investasi dengan tingkat korelasi yang tinggi, perilaku seperti ini juga dapat menyebabkan investor harus menanggung resiko portfolio yang sebenarnya di luar batas kemampuan mereka,” ujar Harsya.

Kesempatan untuk berinvestasi akan selalu terbuka, selama para investor mampu berinvestasi secara bertanggung jawab. “Citi sangat memahami kondisi psikologis para investor ini, dan oleh karenanya selalu menjalankan risk-profiling sebelum memulai jenis investasi apapun,” ujar Meliana Sutikno – Vice President, Retail Bank Head, Citibank N.A.. Citibank terus berusaha memenuhi kebutuhan para nasabahnya dengan cara yang inovatif dan kreatif. Citibank menyediakan paket investasi melalui Model Portfolio dan CRIP.

 

Sumber: Swa.co.id

 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 6 dari 15

Login

CB Login

 

Who's The Star

Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010

Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ...

Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010

Build Your Dream (BYD) : Wang Chuanfu

Tanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang...

Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010

Marni: Pengrajin Sulam Usus Lampung

Manusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su...

Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010

feed image