Kebangkitan Waralaba Lokal, Siapkah Anda?

Sabtu, 01 Agustus 2009 23:29

franchise-hostingBisnis waralaba di Tanah Air kini dikuasai pemain lokal. Masyarakat kita pun mulai sadar bahwa waralaba adalah alternatif penting untuk menggairahkan perekonomian nasional yang lesu saat ini. Anda ingin ikut mencicipi?

Ketika sebagian besar pengusaha masih mengeluhkan dampak krisis global, para pelaku bisnis franchise di negeri ini tampaknya justru sedang asyik-asyiknya menikmati pertumbuhan bisnis. Simaklah fakta berikut. Berdasarkan data Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), dalam enam bulan pertama tahun ini (hingga Juni 2009), total tercatat 1.010 usaha waralaba, dengan jumlah gerai mencapai 42.900 buah, serta mampu menyerap 819.200 tenaga kerja. Bandingkan dengan data tahun lalu (2008) yang mencatat: 855 usaha waralaba, jumlah gerai 31.827 buah, dan menyerap 523.162 tenaga kerja. Artinya, terjadi pertumbuhan bisnis franchise yang luar biasa selama beberapa bulan terakhir.

Lebih menggembirakan lagi, perusahaan lokal semakin merajai pasar franchise di Tanah Air. Juga selama enam bulan terakhir, data AFI mengungkap, jumlah waralaba lokal mencapai 750 unit atau naik 20% dibanding tahun lalu yang tercatat sebanyak 600 unit. Adapun pertumbuhan waralaba asing relatif sedikit, yakni dari 255 unit pada 2008 menjadi 260 unit per Juni lalu.

Cepatnya pertumbuhan waralaba lokal, sekali lagi, membuktikan bahwa waralaba lokal memiliki prospek bisnis yang tidak kalah bagus dibanding waralaba asing. Menengok ke belakang, pada 2005 waralaba asing memang sempat mendominasi pasar franchise di dalam negeri, tetapi sejak 2006 pasar franchise justru berhasil dikuasai pemain lokal. Ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia sendiri sudah mulai sadar bahwa waralaba merupakan salah satu alternatif penting untuk menggairahkan perekonomian nasional yang tengah lesu saat ini.

Tahun lalu (2008), total omset bisnis franchise (lokal dan asing) di negeri ini mencapai Rp 81,03 triliun. Tahun ini, sampai bulan Juni saja sudah mencapai Rp 49,2 triliun. Melihat angka ini, sampai akhir 2009 diperkirakan omsetnya bisa menembus angka Rp 100 triliun, karena akan melewati musim-musim belanja yang seru seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru. Itu sebabnya, Ketua AFI Anang Sukandar berani memprediksi, tahun depan (2010), jumlah waralaba lokal masih akan tumbuh 10%-12%, sementara waralaba asing tumbuh sekitar 3%.

Beberapa waktu lalu, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu juga sempat mengungkapkan kebanggaannya melihat pertumbuhan dan perkembangan bisnis franchise di Indonesia saat ini, baik dari segi jumlah pelaku bisnisnya maupun jumlah merek (brand) baru yang meramaikan pasar. Semakin diminatinya jenis usaha ini, menurut Bu Menteri, karena memberikan sejumlah manfaat mikro yang nyata bagi pemberi waralaba (franchisor) maupun penerima waralaba (franchisee), serta manfaat yang langsung dirasakan pula oleh konsumen berupa jaminan produk bermutu.

Sementara itu, dari sisi makro, meningkatnya minat masyarakat untuk berinvestasi di bisnis franchise juga patut kita syukuri. Bagaimanapun, hampir semua usaha waralaba bergerak di sektor riil sehingga mampu menciptakan multiplier effects yang nyata bagi perekonomian masyarakat. Misalnya, waralaba yang bergerak di bisnis makanan dan minuman yang tentu saja melibatkan pemasok, transportasi, pelanggan, dan mata rantai bisnis lainnya.

Menurut Mari Pangestu pula, ada beberapa hal yang mendukung pertumbuhan bisnis franchise di Tanah Air sepanjang tahun ini. Di antaranya, faktor keberagaman bidang usaha dan daya tahan usaha tersebut yang terbilang lebih kokoh dibanding usaha lainnya. Selain itu, pasar Indonesia juga memiliki potensi besar sebagai tempat untuk melebarkan praktik bisnis waralaba mengingat jumlah penduduk yang besar, sehingga banyak franchisor asing yang terus berusaha melebarkan sayap bisnis mereka ke Indonesia. Itu sebabnya, Mari Pangestu berjanji bahwa pemerintah, lewat Departemen Perdagangan, akan terus mendorong pertumbuhan serta melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap waralaba asing dan lokal untuk mendukung sektor usaha tersebut.

Tak berlebihan pula jika Anang Sukandar berharap, pertumbuhan sektor usaha franchise ini mestinya diimbangi oleh langkah sektor perbankan untuk menurunkan suku bunga bank yang sampai saat ini masih terasa memberatkan. “Seharusnya kita belajar dari negara lain. Di Malaysia, bunga bank biasanya 12%, tapi untuk usaha franchise diberlakukan setengahnya, sekitar 6%,” ungkapnya.

Meskipun selama beberapa tahun terakhir pertumbuhan dan perkembangan bisnis franchise tampak begitu memukau, para calon investor tetaplah harus berhati-hati. Karena, faktanya, di samping banyak contoh keberhasilan, tak sedikit pula mereka yang gagal di bisnis ini -- celakanya, yang gagal ini jarang dipublikasikan. Maka, keluarnya Peraturan Pemerintah (PP) tentang Waralaba No. 42 Tahun 2007, yang memberi persyaratan ketat bagi perusahaan yang ingin mewaralabakan bisnisnya, sungguh sangat membantu sekaligus melindungi kepentingan para investor yang ingin mencoba peruntungan di bisnis franchise yang kian hot ini.

Yang jelas, keterbukaan informasi dari franchisor adalah segala-galanya bagi calon franchisee. Satu lagi yang tak kalah penting, sebelum memutuskan berinvestasi di bisnis franchise (juga keagenan dan lisensi), jangan hanya percaya kepada konsultan, tapi belajarlah langsung dari para investor yang telah terbukti berhasil dan menikmati keuntungan dalam waktu relatif lama. Jangan lupa pula, waralaba lokal sekarang tak kalah hebat lho...


Riset: Rachmanto Aris D.
Sumber: Swa.co.id

.links { font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; color: #B50000; text-decoration: none; } .links:hover { font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; color: #B50000; text-decoration: underline; } .normal { font-family: Verdana, Helvetica, sans-serif; font-size: 8pt; color: #000000 }

Comments
Search
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

feed image