Jangan takut terjangkit virus entrepreneurship |
| Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,5/task,userProfile/user,62/">Yeni H. Simanjuntak & Arief Budisusilo</a> | |||||
| Selasa, 27 Januari 2009 23:43 | |||||
|
Sepintas terdengar berlebihan, ketika Ratna Megawangi, istri Menteri Negara BUMN Sofjan Djalil, menyebut pengusaha Ciputra sebagai menjalankan tugas Tuhan. "Bagi Pak Ci, misinya mengembangkan entrepreneurship di Indonesia ini bisa dibilang sebagai the image of God," ujar Ratna, di sela-sela makan malam di kediaman Pak Ci, panggilan akrab Ciputra, pekan lalu. Namun, kesan berlebihan tersebut segera terhapus begitu mendengar kisah yang tak henti meluncur dari ruang tamu kediaman Ciputra yang megah di kawasan Pondok Indah itu. Pak Ci memang sengaja mengundang pendiri Indonesia Heritage Foundation Ratna Megawangi dan Sofjan Djalil, pasangan suami istri yang dikaguminya, karena visinya yang jelas dalam mengembangkan kewirausahaan melalui pendidikan karakter. Mereka berbagi cerita mengenai semangat entrepreneurship, yang belum sepenuhnya subur di Indonesia. Bukan kebetulan, kisah itu dibeberkan di depan empat dosen dari Universitas Ciputra dan satu dosen dari Universitas Tarumanegara, yang hendak dikirim ke Amerika Serikat untuk mengikuti pelatihan bagi para pelatih pendidikan entrepreneur. Mereka adalah Trianggono Wiradinata, Astrid Kusumowidagdo, Johan Hasan, dan Lenny Gunawan dari Universitas Ciputra serta Chairy dari Universitas Tarumanegara. Program pelatihan itu sebagian dibiayai oleh Universitas Ciputra Entrepreneurship Center dan sebagian lagi dibiayai oleh Ewing Mariot Kauffman Foundation, yayasan yang bergerak di bidang entrepreneurship di AS dengan durasi selama 6 bulan, mulai 20 Januari hingga 12 Juni 2009. Dalam pelatihan berbiaya US$90.000 per orang itu, selain akan belajar dari para profesor entrepreneurship, peserta juga akan menyambangi perusahaan-perusahaan kelas dunia di Silicon Valley, California dan Boston melalui program magang. Dengan pengalamannya itu, setelah kembali ke Indonesia, para dosen ini diharapkan akan menjadi pelatih bagi para pendidik entrepreneurship di Indonesia, sehingga pada gilirannya akan dihasilkan pengusaha andal berkelas dunia. Tentu saja program itu menggelitik Ratna dan Sofyan Djalil. Dengan cepat berhitung, Sofyan yang bertanggungjawab atas pembinaan perusahaan pelat merah (BUMN) di Indonesia, bertekad akan mengadopsi pelatihan tersebut untuk beberapa universitas lain, termasuk Universitas Indonesia. Dengan demikian, virus entrepreneurship juga akan berbiak cepat, termasuk mengontaminasi jajaran BUMN di Indonesia, sehingga mampu bersaing secara kreatif di pasar internasional. Karakter entrepreneur Mendidik entrepreneurship memang bukan perkara enteng. Karena itulah, Ratna mengatakan kekagumannya kepada ide-ide yang dikembangkan Ciputra, yang Agustus nanti akan genap berusia 78 tahun. Apalagi, pendidikan Pak Ci sendiri juga tidak tergolong mulus. Sampai berusia 12 tahun, Pak Ci masih kelas 2 Sekolah dasar, sebelum pada akhirnya mampu menyelesaikan kuliah di Institut Teknologi Bandung, dan kemudian malang melintang di dunia bisnis. Kuncinya ternyata ada pada karakter dan kreativitas. Pemahaman itulah yang kemudian diadopsi Ratna bersama Sofyan Djalil, yang kemudian berhasil mengembangkan sistem pendidikan mulai usia dini berbasis karakter untuk siswa tidak mampu di bawah program Semai Benih Bangsa (SBB). Kini, sudah ada sekitar 700 lembaga pendidikan yang mengadopsi program SBB, di mana outputnya diharapkan akan dapat mencetak generasi baru yang kreatif, inovatif dan berkarakter. "Usia kelas 4 SD, misalnya, mimpinya bukan lagi menjadi pegawai, tetapi menjadi pengusaha," tutur Ratna menggambarkan profil siswa yang diasuh SBB. Jika cita-cita ini berhasil, tentu tidak sulit untuk mengangkat Indonesia menjadi lebih sejahtera. Sebab potensi negeri ini sangat besar. Merujuk statistik, saat ini baru terdapat sekitar 400.000 wirausahawan di Indonesia alias baru sekitar 0,2% dari populasi negeri ini. Padahal, dalam ukuran negara maju, kesejahteraan baru akan dinikmati jika terdapat sedikitnya 2% entrepreneur di seluruh negeri. Artinya, Indonesia masih membutuhkan jutaan entrepreneur untuk memberdayakan kekayaan sumber daya yang ada. ( Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya / Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya ) Sumber : bisnis.com
Only registered users can write comments!
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |
Login
CB Login
Who's The Star
Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ... Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010 |
Build Your Dream (BYD) : Wang ChuanfuTanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang... Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010 |
Marni: Pengrajin Sulam Usus LampungManusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su... Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010 |
