Country Donuts

Minggu, 08 Maret 2009 01:27

“Pelaut ulung tidak akan terlahir dari gelombang yang tenang.” Setidaknya demikian filosofi yang mengantarkan Ahmad Khoerussalim Ikhs sukses mengembangkan bisnisnya. Artinya, seseorang tidak akan sukses tanpa melalui tantangan-tantangan.

Country Donuts di bawah bendera PT Country Lestari, serta sebuah lembaga pendidikan kewirausahaan, bernama Entrepreneur College, dua usaha yang terus melaju di bawah kendali Salim, panggilan akrabnya.

Ia mengaku memulai bisnis dengan bermodalkan keterampilan, berpikir positif, serta memanfaatkan network yang dimiliki. Country Donuts sudah lebih dahulu dijalankan. Dan pengalaman membuktikan kepadanya bahwa uang bukanlah hal terpenting dalam memulai sebuah bisnis. Siapa sangka usaha donat yang kini telah berhasil menjadi bisnis waralaba tersebut pada awalnya terlahir dari sebuah bisnis sederhana tidak membutuhkan modal yang besar. “Pada awalnya Saya belum punya pabrik sendiri, jadi menjual donatnya orang lain, itu sekitar 3 tahun,” urainya.

Buah dari keseriusannya, ia pun kemudian mendirikan pabrik untuk usaha tersebut. Memproduksi donat sendiri untuk dipasarkan sendiri. Tak mau tanggung-tanggung, semenjak tahun 2003 Country Donuts pun menjadi bisnis waralaba. Saat ini dari total 12 pabrik Country Donuts yang tersebar di 12 kota, dua diantaranya milik sendiri, sedangkan sisanya milik mitra franchise.

Meski di pasaran telah terdapat berbagai merek donat, dari luar negeri sekali pun, tak membuatnya gentar memulai bisnis tersebut. “Jika yakin bisa pasti bisa. Donat luar aja laku apalagi lokal,” ujarnya. Tapi untuk sukses Salim menyusun strateginya agar bisa bersaing. Dengan kualitas yang tak kalah tinggi, Country Donuts membidik kelas menengah, tapi dengan harga yang lebih murah. Pada model pengembangan bisnis, citra merek menjadi tujuan bisnis Country Donuts. “Kami bukan sekedar jualan produk, tapi jualan merek,” kata Salim.

Salah satu keunikan bisnis Country Donuts, produk dijual secara paket melalui sales atau agen. Donat yang diproduksi juga hanya yang sudah masuk daftar pesanan, sehingga bisa memperkecil biaya produksi.

Bisnis berikutnya, Entrepreneur College (EC) yang dimulai pada November 2005 telah hadir di empat tempat, tiga diantaranya merupakan mitra franchise. Dua EC ada di Jakarta, sementara dua lainnya ada di Bandung dan Pekanbaru. Sesuai nama lembaga tersebut menurut, EC bertujuan mencetak pengusaha-pengusaha baru di Tanah Air.

 

Berbagi dengan Para Wirausahawan

Satu dari beberapa pesan yang dititipkannya bagi para calon pengusaha muda di Tanah Air. Jika berbisnis jangan bertujuan mencari pendapatan tetap. Tapi buatlah usaha bertujuan tetap berpendapatan. “Bagi seorang karyawan, dengan bekerja ia bisa menerima pendapatan tetap setiap bulannya. Tapi bagi seorang pengusaha, ia bisa tetap berpendapatan setiap hari. Itu bedanya,” tutur Salim.

Ayah dari lima anak ini juga berbagi pemikiran dan pengalaman dengan orang lain melalui tulisan. Beberapa tulisan yang ditulis seputar kewirausahaan, diantaranya To Be The Moslem Entrepreneur, Business Revolution, dan Kiat Sukses Memulai Usaha merupakan hasil karyanya.

Selain sibuk berbisnis, pria peraih gelar sarjana dari jurusan filsafat Universitas Gajah Mada ini juga tercatat aktif sebagai Sekretaris Jendral Asosiasi Pengusaha Waralaba Indonesia dan juga di Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia. (SH)

Comments
Search
lulu   |125.166.96.xxx |2009-11-22 05:34:59
sala kenal
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Login

CB Login

 

Who's The Star

Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010

Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ...

Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010

Build Your Dream (BYD) : Wang Chuanfu

Tanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang...

Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010

Marni: Pengrajin Sulam Usus Lampung

Manusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su...

Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010

feed image