Entrepreneurship

Usaha Jamur bisa Sukses

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,5/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Rabu, 04 November 2009 14:39

Berbekal pengalaman dan semangat yang pantang menyerah serta modal Rp 5 juta, kini produksi jamur di Kelompok Tani Sedyo Lestari telah dijual ke berbagai kota di Indonesia. Bahkan petani yang mulai menekuni produksi jamur tidak saja di wilayah Sedayu, Bantul namun telah merambah di Kabupaten lain di DIY.

Lestari, ketua kelompok tani Sedyo Lestari, menuturkan, ide awal produksi jamur bermula ketika ia melihat peluang saat bekerja pada sebuah perusahaan jamur di Sukabumi pada 1989.

Kala itu, saya berpikir ingin membuat usaha sendiri yang cocok dengan latar belakang pendidikan. Saya juga pernah bermimpi mengajarkan apa yang saya dapat pada orang lain,katanya, Sabtu( 10/10/2009).

Menurutnya, selama empat tahun Ia mempelajari seluk beluk pembuatan jamur hingga memproduksi usaha jamur sendiri. Pada 1994, Lestari kemudian hijrah ke Banjarmasin bersama keluarga. Berbekal niat membangun usaha mandiri, Ia membuat usaha jamur kecil-kecilan, untuk memenuhi pasar lokal. Dengan modal awal Rp5 juta, ia mampu menjual jamur di beberapa pasar tradisional.

Tidak puas dengan produksi di Banjarmasin, lulusan SI pertanian Universitas Negeri Solo (UNS) mencoba keberuntungan baru di Yogyakarta. Alhasil, Ia mampu menggerakkan kelompok tani hingga mendorong dusun lain melakukan usaha yang sama seperti Dusun Jambon, Kalijoho, dan Tonalan.

Ide itu menular pada kelompok tani lain. Butuh proses panjang untuk menciptakan kesadaran usaha setiap kelompok tani,ujarnya.

Pada Mei 2008, bersama anggota kelompok tani, pembibitan jamur dimulai. Awalnya, mereka hanya mengandalkan pinjaman alat produksi, dengan modal awal Rp20 juta. Menggunakan drum-drum bekas, para pekerja mulai melakukan proses sterilisasi baglog. Awalnya, kapasitas produksi hanya mampu menghasilkan 100 baglog per hari. Setiap baglog jamur mampu menghasilkan setengah Kilogram (Kg) jamur. Kini, kapasitas produksi berkembang hingga 1.500 baglog per hari.

Usaha rumahan itu mampu memenuhi pasaran Jogja, Solo, dan Bandung. Petani-petani asal Sleman, Kota, Bantul semakin meminati pengembangan bibit jamur. Lestari menuturkan, petani mulai melirik potensi pasar jamur yang semakin menggiurkan. Mereka bahkan kewalahan untuk memenuhi
permintaan dari berbagai wilayah.

Kelompok tani mendatangkan serbuk gaji kayu sengon, sebagai bahan baku dari Wonosobo. Prosesnya sangat mudah, yakni pencampuran bahan baku serbuk gergaji, kapur, dan bekatul dengan biaya produksi rata-rata Rp1.000 untuk satu baglog. Sementara, untuk proses pemanasan membutuhkan
suhu 90 derajat celcius, untuk mendapatkan hasil yang baik.

Proses pembuatan bibit dari awal hingga menghasilkan jamur membutuhkan waktu satu minggu lebih. Dengan kata lain, dalam satu bulan kelompok tani berproduksi selama dua kali.

Kami terus kembangkan usaha ini jalan kerjasama dengan laboratorium khusus untuk budidaya jamur di Ngipik,tandasnya.

Mereka menjual jamur yang berkhasiat menghilangkan racun dengan harga bervariasi. Untuk jamur kuping basah segar per-kilogram Rp3.000, kering Rp38.000-40.000, sedangkan untuk bibit jamur tiram basah Rp8. 000-9.000 per kilogram.

Usaha itu tak hanya menguntungkan dari sisi produksi. Kelompok tani bahkan bisa memanfaatkan limbah bahan baku menjadi pupuk. Dari hasil uji coba di Temanggung, pupuk dari limbah jamur cukup baik untuk tanaman tembakau.(daruwaskita/trijaya)(adn)


Sumber: www.Okezone.com

 

Sukses dari Sepatu Kulit

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,5/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Senin, 02 November 2009 16:12

Produknya telah menembus pasar Eropa. Armani pun memesan darinya. Inilah jatuh- bangun anak Tasik merenda bisnis.

Fokus. Itulah pilar kesuksesan Dede Chandra mengembangkan bisnis sepatu. Sejak mengibarkan CV Fortuna Shoes (FS) pada 1968, dia memang selalu fokus: menggarap sepatu kulit segmen premium. Dan dia sukses dengan cara itu. Memproduksi 40 ribu pasang setahun, sepatunya menembus negara maju seperti Belanda, Jerman, Prancis dan Italia.

Perjalanan bisnis ini tidak diperkirakan sebelumnya. “Saya masuk ke bisnis sepatu ini tidak sengaja,” ujar Dede, pria kelahiran Tasikmalaya 69 tahun lalu. Setelah ditinggal mangkat ayah dan ibunya, Dede kecil (12 tahun) hidup bersama pamannya di Bandung. Sang paman adalah pembuat sepatu perempuan dewasa dan menjualnya di toko miliknya, Rofina.

Hidup bersama paman yang pebisnis sepatu membuat Dede menggeluti urusan serupa. Dia membantu sang paman, dari pekerjaan ringan hingga mengurusi pemasaran. Merasa sudah mampu dan ingin mandiri, selepas SLTA, dia menggulirkan bisnisnya sendiri. Berdirilah FS di sebuah rumah kontrakan di Lengkong Kecil, Bandung, yang mempekerjakan tiga karyawan.

Seperti pamannya, Dede menggeluti sepatu kulit. Bedanya, dia fokus pada sepatu anak perempuan usia 5-12 tahun. Selain belum banyak pesaing, “Saya tak mau mengambil pasar Paman,” katanya.

Pilihan ini tak keliru. Tahun pertama berdiri, banyak toko sepatu tertarik menjual produknya karena bahan baku kulitnya lebih empuk dibandingkan sepatu anak yang ada. Dede mengenang, ketika menggulirkan usahanya, tiap Jumat sebelum adzan Subuh dia di Stasiun Kereta Bandung. Berangkat ke Jakarta, dia mendarat di Proyek Pasar Senen. Pukul 07.00, sebelum toko-toko di Proyek Senen dibuka, dia menyiapkan 25 pasang sepatu untuk ditawarkan.

Sambutan pedagang Senen sangat baik. Tak mengherankan, rutinitas seperti itu terus berlanjut sampai beberapa tahun. Jumlah produksi pun meningkat. Di tahun kedua, 50 pasang. Dan seiring dengan itu, Dede membuat sepatu anak lelaki usia 5-12 tahun.

Diakui Dede, pesatnya usaha FS turut dipengaruhi bersatunya dua kekuatan sepatu di Bandung. Pasalnya, pada 1970 dia menikahi putri pemilik toko sepatu ternama di Kota Kembang. Orang tua Faleria Wijaya, istri Dede, adalah pemilik toko sepatu Shensen yang terkenal sejak zaman Belanda. “Tahun itu dahsyat sekali karena kami bisa bekerja berdua," ucapnya bersemangat. Kapasitas pun meningkat sampai 250 pasang sepatu.

Namun, empat tahun kemudian malang tak bisa ditolak. Pasar Proyek Senen terlalap si jago merah, dan Dede terkena imbasnya. Banyak toko pelanggannya menunggak pembayaran. Akan tetapi, itu tak memukulnya terlalu lama. Terbakarnya pasar Proyek Senen membuatnya mengarahkan produknya ke Pasar Baru, Jakarta. Dan terbukti pilihannya tak keliru. Di sini dia justru makin moncer sehingga bisa melebarkan pasar ke wilayah lain di Jakarta seperti Pancoran dan Cipete.

Tahun 1975 Dede membeli mesin jahit sepatu paling mutakhir dari Jerman. Keberadaan mesin ini menandai era baru karena sebelumnya FS menggunakan mesin jahit konvensional dengan ayunan kaki. Di tahun itu pula Dede dilibatkan memasarkan sepatu produksi toko Shensen, merek Robin Hood (RH), yang persebarannya hingga Makassar. Toko Shensen sendiri sudah tenar dengan Goodyear Welted System (GYWS) yang menghasilkan sepatu yang nyaman, tahan banting dan awet.

Waktu terus berjalan. Tahun 1995 menjadi momen emas dunia sepatu Tanah Air, tak terkecuali FS. Memiliki 300 karyawan, Dede sudah mampu mengekspor beberapa jenis sepatu kulit, termasuk sepatu golf yang dipasarkan ke Jepang dengan merek Puccini. Sayang, badai krisis moneter datang memukul industri sepatu. Dede pun kena dampaknya. Padahal, dia baru memindahkan pusat produksi ke pabrik baru yang lebih luas, 4.000 m2, di Jl. Sriwijaya, Bandung. “Semuanya habis. Ekspor sempat berhenti,” ujarnya mengenang.

Tak mau limbung, Dede mencoba berpikir positif dan justru mengisi dua tahun krisis untuk belajar cara pembuatan sepatu berbasis GYWS. Namun, upaya memasarkan hasil teknologi ini tak mulus. Dia sempat mencoba ekspor ke Taiwan, tetapi hanya berlangsung dua kali. “Bahan baku lokal yang saya gunakan dianggap tak sesuai standar walau sebenarnya sama bagusnya.”

Tak patah arang, Dede mengimpor bahan baku kulit dan material lain dari Eropa. Dia juga menjadikan Eropa yang telah terbiasa dengan produk GYWS sebagai pasarnya. Dan nasib baik menemaninya. Pemesan berdatangan dari Belanda, Jerman dan Prancis. Yang menarik, dia kemudian diminta memproduksi sepatu dengan merek pesanan importir. Antara lain, Van Bommel, Prime Shoes, Oehler dan Bexley. “Tapi hampir semuanya dicap 'made in Indonesia',” katanya. Bahkan, pernah beberapa kali desainer terkemuka dunia, Giorgio Armani, mengorder sepatu ke FS. “Tapi tidak mau disebutkan made in Indonesia,” ujar Dede seraya tersenyum geli.

Ada pengalaman menarik lain. Seorang pejabat dari kabinet Indonesia Bersatu pernah tertarik membeli sepatu Prime Shoes di Jerman. Jika dikurs rupiah, harganya sekitar Rp 4 Juta. “Pejabat itu kaget sekali begitu membaca ada cap 'made in Indonesia' di bawah sepatu. Begitu sampai di Indonesia, dia menyempatkan berkunjung ke pabrik saya dan sampai sekarang menjadi pelanggan loyal,” papar Dede.

Dari sisi harga, produk FS memang cukup premium. Meski demikian, sebenarnya masih lebih murah dibanding produk selevel buatan Eropa. Sepatu dengan teknik yang sama di Eropa dibanderol Rp 4-5 juta. “Kalau beli di sini, hanya Rp 1,5 Juta,” katanya. Dia akui, bagi masyarakat Indonesia, produknya terbilang sangat mahal.

Yang jelas, sejak order ekspor dari Belanda datang, negara Eropa lain ikut memesan. Produksi sepatu Dede dengan pola GYWS yang dimulai pada 1997 itu pun terus meningkat kapasitasnya dari tahun ke tahun. Sejak 2004 pabrik Dede mampu berproduksi sampai 40 ribu pasang/tahun. “Sampai sekarang produksi masih berada di kisaran angka itu,” ujarnya. Dede menargetkan tahun depan bisa mencapai produksi lebih dari 40 ribu pasang.

Mengapa FS tidak memasarkan merek sendiri ke Eropa? “Kalau untuk ekspor sepatu dengan sistem GYWS, jika belum punya nama, kita tidak bisa jual mahal,” Dede memberi alasan. Namun, untuk Jepang, dia mengekspor dengan merek sendiri: Fortuna Shoes.

Kendati dalam negeri bukan pasar utama, banyak orang Indonesia mengenal dan mengapresiasi FS. Bahkan, tahun lalu FS memperoleh penghargaan bidang Rintisan Teknologi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dede benar-benar melejit di sepatu kulit.

Di dalam negeri, produk-produk FS antara lain dijual di galeri sepatu Eternity, Bandung. Astri Budiarti, karyawan Divisi Penjualan Eternity, menjelaskan bahwa penjualan produk FS di galerinya cukup bagus. “Dalam sebulan ini lebih dari 10 pasang terjual,” katanya. Ada empat merek sepatu FS yang dijual di Eternity: Red Rum, Van Bommel, Lederer dan Quarvif.

Dari perjalanannya menggeluti bisnis sepatu kulit ini, Dede menyimpulkan bahwa agar bisa bertahan, ada tiga hal terpenting yang mesti dilakukan. Pertama, mengamankan bahan baku. Mendapatkan kulit tak semudah karet PVC sepatu olah raga. Hanya ada tiga negara penghasil bahan baku. Komponen bahan baku sepatu FS kebanyakan diimpor. Ada yang solnya dari Italia, kulitnya dari Prancis dan material lain dari Belanda. Komponen impor yang tinggi ini memengaruhi harga jual.

Kedua, menguasai teknologi. FS memiliki 43 jenis mesin yang dibeli satu per satu dan merupakan satu-satunya pabrik sepatu di Indonesia yang memiliki mesin pemotong kulit terintegrasi dengan komputerisasi. Satu mesin pemotong kulit, misalnya, dibelinya dari Swiss seharga Rp 1 miliar.

Ketiga, harus berani nekat. Dia memberi contoh saat dirinya mendirikan pabrik di Jl. Soekarno-Hatta, Bandung, seluas 6.000 m2. Contoh lain, dia pernah ikut berpameran di Tokyo yang hasilnya belum jelas dengan biaya Rp 270 juta. “Saya nekat saja, waktu pameran hanya ada order 25 pasang. Tapi saya percaya dampaknya. Dan memang betul, seminggu setelah ekspor pertama, datang pesanan bertubi-tubi hingga ratusan pasang,” paparnya.

Budi W. Soetjipto, pemerhati bisnis dan manajemen dari Universitas Indonesia, melihat apa yang dilakukan Dede sudah bagus. Hanya saja, untuk mengembangkan usahanya, dia menyarankan agar Dede terus membesarkan mereknya sendiri. Caranya: memasukkan mereknya ke gerai-gerai, di negara tujuan ekspor maupun di Indonesia. “Lebih bagus lagi jika membangun outlet miliknya sendiri. Langkah ini cukup penting supaya tidak melulu menjadi tukang jahit merek sepatu impor,” katanya.

Dengan cara itu, masyarakat Eropa akan tahu kualitas merek FS tak kalah dari merek premium yang sudah dikenal dunia. Budi melihat FS kini telah berada pada fase peralihan dari imitasi ke inovasi. “Yang penting, terus menguasai teknologinya dan membuat desain sendiri.”

Saran di atas jelas sangat masuk akal meski memiliki risiko tersendiri. Barangkali bukan Dede yang mewujudkannya, melainkan generasi berikutnya. Dede yang hingga kini masih datang ke kantor untuk memastikan manajemen berjalan sesuai dengan rencana memang telah menempatkan anak dan menantunya dalam operasional FS. ***

 

Sumber: www.swa.co.id

 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 7 dari 25

Login

CB Login

 

Who's The Star

Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010

Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ...

Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010

Build Your Dream (BYD) : Wang Chuanfu

Tanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang...

Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010

Marni: Pengrajin Sulam Usus Lampung

Manusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su...

Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010

feed image