Entrepreneurship

Lima Orang terkaya baru di Indonesia

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,5/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Sabtu, 05 Desember 2009 22:24
Booming sektor komoditas—batu bara, kelapa sawit, serta minyak dan gas (migas)—sepanjang tahun 2009 membawa berkah bagi sejumlah pengusaha Indonesia. Setidaknya, itu tergambar dalam laporan terbaru versi Majalah Forbes Asia.

Kamis (3/12) kemarin, Forbes menerbitkan lagi 40 orang terkaya negeri ini. Lima di antaranya merupakan pendatang baru, dan empat dari lima orang itu adalah para pengusaha di sektor komoditas.

Kelimanya ialah Ciliandra Fangiono, Chief Executive Officer (CEO) First Resources, produsen minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO); Sandiaga Uno, salah satu pemilik Adaro Energy; Hashim Djojohadikusumo, konglomerat minyak dan bisnis niaga; Bachtiar Karim, Chairman Musim Mas, produsen CPO; serta Kusnan dan Rusdi Kirana, pemilik maskapai terbesar kedua di Indonesia, Lion Air.

Yang terbilang menonjol adalah Sandiaga Uno. Mengawali bisnis pada 1997 dengan mendirikan PT Recapital Advisors bersama Rosan Perkasa Roeslani dengan modal nekat, kini total kekayaannya sudah mencapai 400 juta dollar AS, atau sekitar Rp 3,76 triliun pada kurs Rp 9.400 per dollar AS.

Sayang, Sandiaga tak membalas pesan singkat dan telepon dari Kontan. Namun, di mata Rosan, sahabat terdekat yang juga Presiden Direktur Recapital Advisors, Sandiaga adalah pria pintar yang selalu merencanakan bisnis dengan matang. "Tak heran jika sekarang ia mendapat kesuksesan seperti saat ini," kata Rosan.

Rata-rata naik

Selama 2009, sektor komoditas memang benar-benar perkasa. Tengok saja kinerja bursa saham kita. Dalam 12 bulan terakhir, menurut Forbes, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia melesat hingga 115 persen, tertinggi kedua di Asia setelah Shenzen SE Composite, China. Emiten-emiten sektor komoditas yang mengerek perdagangan saham.

Tak heran jika pengusaha-pengusaha komoditas menikmati betul hasilnya. Aburizal Bakrie, misalnya. Dalam daftar Forbes baru, pemilik Bumi Resources itu sukses naik peringkat. Tahun lalu, akibat krisis, orang terkaya 2007 itu kekayaannya menukik 84 persen dari 5,4 miliar dollar AS pada 2007, jadi hanya 850 juta dollar AS dan hanya pada posisi delapan. Tahun ini, harta Aburizal naik lagi menjadi 2,5 miliar dollar AS dan menempati posisi empat.

Low Tuck Kwong, pemilik Bayan Resources, juga setali tiga uang. Setahun ini, saham Bayan Resources naik hingga 474 persen. Tak heran, Low, yang baru tahun lalu masuk jajaran 40 besar orang terkaya dan nangkring di posisi 25 dengan harta 214 juta dollar AS, tahun ini melejit ke posisi 11 dengan kekayaan 1,18 miliar dollar AS.

Rata-rata, kekayaan 40 orang itu memang melonjak. Jumlah totalnya naik dua kali lipat, dari 21 miliar dollar AS pada 2008 jadi 42 miliar dollar AS tahun ini. Forbes mencatat, lebih dari sepertiga dari daftar tersebut meraup kekayaannya dari sektor batu bara, CPO, dan migas, termasuk empat dari lima pendatang baru itu.

Lonjakan harta mereka berbanding terbalik dengan kondisi 2008. Dalam rilis Forbes 12 Desember 2008, rata-rata harta 40 konglomerat itu anjlok tergerus krisis. Angkanya, dari total 40 miliar dollar AS pada 2007, jadi hanya 21 miliar dollar AS. Itu seiring anjloknya pasar global, turunnya IHSG sebesar 54 persen dibanding 2007, dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Pemilik Grup Djarum, Budi dan Michael Hartono, tahun ini masih menempati posisi pertama dengan total kekayaan 7 miliar dollar AS. Sisanya diisi oleh wajah-wajah lama.

Yang hilang dari daftar Forbes tahun ini, antara lain, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang tahun lalu di posisi 29 dengan kekayaan 185 juta dollar AS; Tan Kian, pemilik hotel bintang lima JW Marriott dan Ritz-Carlton, yang pada 2008 di urutan 30 dengan harta 175 juta dollar AS; dan Hadi Surya, pemilik Berlian Laju Tanker, pada 2008 pada urutan 38 dengan kekayaan 70 juta dollar AS. (Danto Rochman, Anna Suci Perwitasari/ Kontan)



Editor: Edj

Sumber : www.kontan.co.id
 

Butuh 160 Sapi tiap Bulan

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,5/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Selasa, 17 November 2009 19:12
Sungguh tak dinyana, peristiwa pahit pemecatan Albert Porsiana (48) sebagai Direktur Hotel Marina Kupang justru menjadi momentum awal kesuksesannya di bidang agroindustri peternakan Nusa Tenggara Timur.

Albert, yang telah memimpin roda manajemen Hotel Marina sekitar empat tahun, akhirnya harus dipecat tahun 1994 karena dianggap tak mampu membawa hotel milik keluarga itu mencapai puncak kemajuan.

”Hotel itu merupakan perusahaan keluarga milik orangtua. Karena saat itu ada konflik keluarga, saya akhirnya harus menerima pemecatan sebagai direktur,” kata Albert.

Anak bungsu dari delapan bersaudara pasangan C Porsiana dan Ny C Chamberlain itu terpaksa merintis lagi kariernya dari nol. Beruntung, pada masa awal yang amat sulit Albert didampingi istri tercinta sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan Pemerintah Provinsi NTT. Dengan demikian, keuangan rumah tangganya masih dapat tertolong.

Albert juga tidak putus asa. Dia bersyukur atas jiwa kewirausahaan yang ditanamkan dalam keluarga besarnya sehingga semangatnya tidak surut untuk mencari terobosan bisnis. Dia lalu melakukan survei terhadap dua bidang usaha yang dinilainya prospektif, yakni bambu untuk pembuatan tusuk gigi dan daging sapi. Di kawasan NTT ketika itu bambu tumbuh subur dan seperti di daratan Timor lainnya, tiap tahun tanaman bambu banyak yang dibakar. Ini tentu sangat disayangkan, tetapi bisnis pembuatan tusuk gigi membutuhkan investasi besar.

”Bagi saya, untuk menggeluti satu usaha harus dikuasai dulu ilmunya, baru bisa diterapkan. Saya mulai mendalami usaha bambu ataupun daging sapi lewat buku-buku. Ternyata, untuk bisnis daging sapi, modalnya tidak terlalu besar. Dari satu sapi mulai dari daging, kulit, tulang, lemak, dan isi perutnya bisa menjadi uang. Akhirnya saya memilih bisnis daging sapi,” kata bapak tiga anak itu.

Albert telah menghitung secara cermat modal awal untuk bisnis daging sapi dan berniat meminjam modal dari bank. Namun, ketika dia merintis usaha tersebut tahun 1995, tidak ada satu bank pun yang bersedia memberikan pinjaman modal.

Beruntung salah seorang temannya memberikan kiat, yakni dengan cara meminjam dana bank seolah untuk perbaikan rumah. Albert kemudian mengajukan permohonan ke Bank Tabungan Negara (BTN). Sebagai jaminan, dia menyerahkan sertifikat rumah milik ibunya. Dia berhasil memperoleh modal pinjaman Rp 35 juta.

Pada tahap awal usaha setiap minggu Albert membeli dua ekor sapi yang kemudian diolah dengan produk utama daging se’i (daging sapi hasil panggangan khusus). Ia membeli dalam bentuk karkas, daging dan tulang sapi setelah dipisahkan dari kepala, kulit, kaki bagian bawah, isi perut, dan ekor.

Albert membuka usaha agroindustri peternakan itu dengan bendera CV Aldia. Sebutan Aldia merupakan singkatan dari namanya sendiri, istri, dan anak-anaknya.

Daging se’i Aldia kini begitu terkenal dan menjadi oleh-oleh khas dari Kupang. Di luar NTT, daging se’i Aldia paling banyak diminati di Pulau Jawa.

Menanjak

Dengan telaten Albert menekuni bisnis barunya itu hingga secara perlahan tetapi pasti sejak tahun 1997 usahanya terus menanjak. Sejumlah bank pun mulai menaruh perhatian dan menawarkan pinjaman menggiurkan. Salah satunya adalah Bank Bumi Daya yang mengucurkan kredit Rp 40 juta pada 1997.

Tahun 1997-1999 Albert mulai membeli sapi hidup meski pembelian itu dilakukan oleh orang lain yang memahami betul seluk-beluk tentang sapi. Tahun 2000-an ia turun langsung dalam pembelian sapi, meski tetap didampingi pemandu. Pemandu itu diberi upah antara Rp 25.000 dan Rp 50.000 per ekor sapi.

”Pemandu itu dapat memperkirakan dengan baik berat badan sapi tanpa harus ditimbang. Membeli sapi di pasar hewan memang tidak mudah sebab penuh dengan mafia. Ibaratnya, pasar ternak sapi itu sarang penyamun. Jadi, untuk masuk ke sana harus menjadi penyamun juga,” kata Albert.

Perusahaannya, Aldia, menjual produk sapi dalam dua bentuk, yakni daging olahan dalam kemasan dan daging segar. Di Kupang, produk-produknya saat ini dipasarkan di tiga tempat, yakni di Bandar Udara Eltari, Hotel Marina, dan di kawasan Oepura. Omzet di tiap tokonya per hari berkisar Rp 10 juta.

Kini tiap bulan Albert membutuhkan sekitar 160 sapi atau rata-rata 5-7 sapi setiap hari. Dia menjual daging olahan berupa daging se’i dan untuk bakso. Adapun tulang, lemak, dan daging segar banyak dipesan oleh pengusaha rumah makan yang menyediakan stik, rumah makan padang, restoran, penjual martabak, ataupun penjual bakso setempat. Adapun kulit sapi dijual ke perajin kulit di Jawa.

Dari kesuksesannya, semua pinjaman bank sudah dapat dilunasinya. Bahkan, tanah milik ibu yang dipinjam untuk usaha seluas 3.000 meter persegi di Oesapa juga bisa dibeli Albert seharga Rp 30 juta tahun 2000.

Selain Albert, sebenarnya ada sejumlah pelaku agroindustri peternakan, khususnya sapi di daratan Timor. Namun, umumnya mereka tidak bertahan lama dan kemudian gulung tikar.

Arbert mengusulkan agar dinas terkait di bidang pertanian, peternakan, dan industri dapat bersinergi sehingga ternak sapi dari NTT tidak hanya dijual antarpulau dalam bentuk sapi hidup, tetapi juga dalam bentuk daging olahan dengan nilai jual yang lebih tinggi.

Dia mencontohkan, produksi jagung dari daerah itu tidak hanya diproyeksikan untuk ekspor sebagai biji jagung untuk pakan ternak ataupun sektor pangan lainnya, tetapi ditujukan pula untuk produk olahan, seperti baby corn, hingga batang dan daun jagung yang masih muda untuk pakan ternak bergizi tinggi.

”Tanaman jagung untuk baby corn umurnya hanya 45 hari, setelah itu batang dan daunnya dapat dijadikan makanan yang sangat bergizi bagi sapi. Selain industri akan berkembang, sektor pertanian dan peternakan pun untung,” katanya.

Ia optimistis, usaha agroindustri sapi di NTT sangat prospektif. ”Ke depan saya pun tidak ada niat untuk ekspansi usaha ke bidang lain. Namun, perlu revolusi atau lompatan besar sistem pengelolaan dan pengembangan peternakan di NTT. Jika langkah strategis tidak dilakukan mulai sekarang, dalam kurun waktu 10 tahun-15 tahun lagi bukan tidak mungkin ternak di NTT akan habis,” tuturnya. (KOR/ANS)


Editor: Edj

Sumber : Kompas Cetak
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 6 dari 25

Login

CB Login

 

Who's The Star

Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010

Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ...

Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010

Build Your Dream (BYD) : Wang Chuanfu

Tanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang...

Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010

Marni: Pengrajin Sulam Usus Lampung

Manusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su...

Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010

feed image