Entrepreneurship

Usaha Konveksi Rumahan Omzet 500jutaan

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,5/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Selasa, 19 Januari 2010 01:47
Benarkah industri rumahan tak dapat bertahan bahkan bersaing di era kapitalisasi dan perdagangan bebas seperti sekarang ini? Jawabannya, tentu tidak.

Setidaknya, itulah yang dibuktikan oleh Bang Ucok alias Sriyadi Nadeak (42) dengan usaha industri konveksi rumahannya. Sejak didirikan 6 tahun lalu hingga sekarang, usaha industri konveksi Bang Ucok mampu tetap berjalan bahkan terus berkembang dan mendatangkan keuntungan yang menjanjikan.

Sudah sejak 6 tahun lalu, Bang Ucok menggeluti usaha industri pembuatan jeans. Sebuah "pabrik" konveksi mini didirikannya di bilangan Kebon Kacang, Jakarta Pusat. Dengan dibantu sekitar 40 orang karyawan, setiap harinya pria asli Medan itu memproduksi ratusan celana jeans yang kualitasnya tak kalah dengan produk-produk buatan pabrik besar bahkan produk impor.

Selain dipasarkan di toko miliknya di pusat grosir Blok F Tanah Abang, Jeans-jeans keluaran pabrik mini Bang Ucok tersebut juga sudah menjamah pasar nasional, di hampir seluruh wilayah Indonesia. Diakui Ucok, usaha ini dimulainya dengan susah payah dari nol.

Dulu Bang Ucok hanya seorang pelayan toko jeans di Pasar Tanah Abang. Tak pernah ia bayangkan sebelumnya dirinya dapat membuka usaha industri pembuatan jeans sendiri. Sampai suatu saat, pemilik toko tempat Bang Ucok bekerja mengangkatnya sebagai marketing sekaligus orang kepercayaan.

Naik posisi, tak ayal, penghasilan Bang Ucok pun meningkat. Sejak saat itu, Bang Ucok mempunyai keinginan untuk membangun usaha sendiri. Sedikit demi sedikit ia kumpulkan hasil keringatnya. Sampai akhirnya, pada sekitar tahun 2003, terkumpul modal yang cukup dari hasil jerihpayahnya itu.

Dari modal yang terkumpul lantas Bang Ucok memutuskan untuk mendirikan usaha industri rumahan pembuatan jeans, bidang yang sudah dipahaminya sejak menjadi pelayan toko. Sejumlah mesin jahit dan peralatan untuk membuat jeans dibeli.

Tetangga-tetangga di sekitar rumahnya pun dirangkul dan diberdayakannya untuk menjadi pekerja di pabrik mini yang dibuatnya. Dengan perjalanan yang tak mulus, usaha industri pembuatan jeans milik Bang Ucok itu pun akhirnya dapat berjalan dan bertahan hingga sekarang. Bahkan, bertambah maju.

Percaya atau tidak, saat ini, dari usaha rumahan tersebut Bang Ucok dapat mengantongi omzet hingga lebih dari Rp 500 juta rupiah per bulan. Nilai pendapatan yang fantastis untuk ukuran sebuah industri konveksi rumahan. Ditanya mengenai kunci kesuksesannya hingga mampu bertahan sampai sekarang, pria yang berpenampilan sederhana itu mengungkapkan rahasianya.

"Yah, yang paling penting adalah selalu menjaga kualitas produk yang kita hasilkan Mbak. Harus terus buat inovasi baru dan original pastinya. Satu lagi yang paling penting harus selalu menjaga kepercayaan dan membuat senang pelanggan. Saya punya satu cara Mbak untuk membuat pelanggan saya selalu senang, pakai jurus kopi panas," kata Bang Ucok saat ditemui Kompas.com di pabriknya, Selasa (5/1/2010).

Bang Ucok memang punya cara unik untuk menyenangkan pelanggan yang datang ke toko ataupun ke pabriknya. Dia selalu menyuguhkan segelas kopi panas untuk para pelanggannya.

"Biasanya kalau ada pelanggan atau pembeli datang saya akan menyuruh asisten saya untuk membuatkan kopi panas pas saya sedang meladeni pelanggan lain. Kalau saya suguhkan kopi panas, mereka akan betah nunggu sampai saya selesai melayani pelanggan lain, sampai kopinya dingin juga. Tapi, kalau disuguhkan air dingin, kan mereka capek tuh, haus, airnya cepat diminum habis deh. Airnya habis, kalau saya belum selesai melayani pelanggan lain mereka akan cepat bosan. Akhirnya, mereka minta ya udahlah Bang balikin aja lah uangnya, kelamaan. Biasanya begitu," tandasnya.
 

Bandung Pisan Euy....

Ditulis oleh <a href="http://www.detiker.com/component/option,com_comprofiler/Itemid,5/task,userProfile/user,88/">arinosan</a>   
Senin, 21 Desember 2009 11:39
Bandung pisan! (banget). Demikian tagline besar yang dibawa di dalam desain-desain kaus rancangan Ben Wirawan Sumardji (33) dan Hanafi Salman (33). Mereka menjadikan oblong sebagai sebuah media kampanye sosial dan budaya kota. Kaus bukan hanya sebagai alat fashion, melainkan juga ensiklopedia sejarah, landmark, aksen, wisata, dan berbagai seluk-beluk tentang Kota Bandung dan warganya.

Sejak berdiri akhir 2004, Mahanagari menghasilkan setidaknya 60 desain kaus unik, menggelitik, dan kadang disertai kritik sosial.

Kaus dengan tulisan: "F=V=P" adalah salah satu yang sangat digemari dan banyak dicari pembeli. Teks ini akan mengingatkan kita pada karakteristik urang Bandung dan umumnya Sunda asli yang sering kali kesulitan melafalkan konsonan F, V, dan P saat bertutur kata.

"Bandung itu berbeda dengan kota besar lainnya macam Yogyakarta dan Bali. Kota ini mengalami percampuran budaya demikian besar. Jika tidak mulai diperkenalkan, budaya lama akan hilang, tersubstitusi kultur-kultur baru yang muncul," ujar Ben, Direktur CV Mahanagari Nusantara, perusahaan pemilik merek Mahanagari yang melahirkan oblong-oblong rasa Bandung pisan itu.

Ia percaya, kaus bisa menjadi media berkampanye sosial dan budaya. Kuncinya pada keunggulan desain. Berbeda dengan merek lain yang sekadar menjual nama Bandung ataupun ikon kasatmata, Mahanagari senantiasa menyisipkan pesan di setiap desain kaus buatannya.

Salah satunya, desain Menara Eiffel terbalik. Bandung yang dulu katanya indah, dijuluki Parijs van Java, sekarang ini kan sudah berubah. Kota ini punya banyak persoalan baru, tutur alumnus Desain Produk Institut Teknologi Bandung yang akrab disapa Benben ini. Dia membalikkan ibu jarinya dari atas ke bawah, menjelaskan makna Menara Eiffel terbalik di kaus itu.

Brand Mahanagari ini diciptakan kala krisis moneter melanda Tanah Air pada pengujung tahun 1998. Berbeda dengan anak muda kreatif lainnya yang ketika itu ramai mendirikan industri clothing di distro, Ben justru melawan arus dengan memproduksi kaus berdesain Bandung dan kekhasannya.

"Ketika tahun 1998 ikut pertukaran pelajar ke National University of Singapore (NUS), saya bingung harus memberi suvenir khas apa dari Bandung, selain makanan pada saat hari tukar kado. Kaus yang menampilkan kekhasan kota hanya ada di Bali dan Yogya," kenang Benben.

Menggandeng rekannya, Hanafi, yang jago mendesain kaus, Benben memilih meninggalkan pekerjaan desainer di sebuah perusahaan perlengkapan alam bebas. Dia merintis usaha sendiri dengan modal awal dari pinjaman senilai Rp 5 juta. Ketika itu baru lima desain sederhana yang diciptakan. Jualan dilakukan dengan sistem titip di toko-toko di kawasan Jalan Braga dan Setiabudhi.

Pasar utamanya saat itu adalah para turis asing dan ekspatriat. Pada awalnya Ben dan Hanafi pun rela berjualan langsung di kereta api eksekutif Bandung-Jakarta. Pascaperistiwa Bom Bali I, Oktober 2002, usaha mereka sempat merugi. Itu karena Bandung sepi turis asing.

Tur wisata budaya

Sempat berhenti berproduksi dua setengah tahun, dengan suntikan modal mertuanya, Ben menghidupkan kembali Mahanagari. Terobosan baru dalam dunia clothing pun dimunculkan.

Mahanagari, menurut Hanafi, membeli desain-desain dari pihak luar, kebanyakan mahasiswa Seni Rupa dan Desain Produk ITB. Desain itu dihargai senilai Rp 200.000 dan royalti yang bisa mencapai Rp 2 juta. Konsep ini adalah sebuah bentuk keuntungan simbiosis dalam upaya ikut membesarkan almamater mereka.

Dalam perkembangannya, bidang-bidang usaha Mahanagari pun kemudian diperluas, yaitu juga mencakup kegiatan tur wisata budaya, ekologi, dan sejarah macam Lavatourm, yaitu tur menyusuri jejak geologi kawasan Bandung Purba serta tur melihat bangunan bersejarah di Bandung. "Ini merupakan bagian dari upaya kampanye seutuhnya tentang budaya dan segala potensi Bandung," ujar Benben.

Mahanagari ingin tidak dikenal sebatas penjual kaus, tetapi sebagai perusahaan peduli pada lingkungan dan sosial Kota Bandung. "Belakangan saya baru tahu hal itu kini disebut social entrepreneur," kata penerima penghargaan Gubernur Jawa Barat untuk Perusahaan Kreatif Prospektif tahun 2007 dan 2008 ini.

Kampanye itu antara lain perjalanan ke Pasir Pawon, tempat ditemukannya manusia purba di kawasan Karst Padalarang. Selain itu, perjalanan ke sumber air Bandung Selatan dan wisata sejarah Pangalengan. Pesertanya masyarakat umum yang berminat terhadap sejarah dan peduli terhadap berbagai hal aktual tentang Bandung.

Ramah lingkungan

Tidak hanya kaus oblong, Mahanagari kemudian menciptakan desain unik, yaitu paper folder (tempat menyimpan kertas) pengganti plastik keresek. Kemasan produk ini menjadi simpul jaringan kampanye antara Mahanagari dan organisasi kemasyarakatan lainnya.

Inovasi pun dilakukan dengan komponen utama dari kardus. Kardus dipilih karena praktis, murah, dapat digunakan lagi, dan bisa didaur ulang. Atas desain kemasan yang bernuansa ramah lingkungan ini, Mahanagari mendapatkan penghargaan Gold Award Desain Terbaik Indonesia tahun 2008 kategori T-Shirt Packaging Indonesia Good Design Selection yang diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Juri menilai gambar dan desain bukan sekadar alat pemanis jualan, melainkan bisa dipakai untuk kepentingan dan kepedulian sosial," katanya.

Strategi ini ternyata diterima masyarakat Bandung. Beragam desain laku dijual di pasaran. Hal itu dipengaruhi juga oleh besarnya minat masyarakat ikut dalam kampanye Mahanagari ke berbagai daerah bersejarah dan khas Kota Bandung.

Untuk tahun 2010, Ben berencana membawa Mahanagari terbang lebih tinggi. Ia menyebut rencana itu dengan istilah menjual otak. Menurut Ben, menjual otak diartikan dengan lebih banyak berkreasi dan berinovasi lewat karya dengan harapan bisa dilirik para pemegang modal, seperti perusahaan swasta.

"Apabila sinergis dengan pemegang modal bisa tercapai, diharapkan bisa dapat modal lebih besar guna mengembangkan Mahanagari sebagai perusahaan kampanye sejarah dan pendidikan yang lebih besar," ujar Ben.


Editor: Edj
 
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Halaman 4 dari 25

Login

CB Login

 

Who's The Star

Manusia-Manusia Terkaya di Hongkong 2010

Majalah Forbes kembali memperbarui survei mereka mengenai orang terkaya di Hongkong. Majalah Forbes Asia melaporkan Li Ka-Shing yang juga Chairman Cheung Kong Holding Ltd sebagai orang terkaya dengan ...

Who's The Star | Jumat, 5 Februari 2010

Build Your Dream (BYD) : Wang Chuanfu

Tanpa kapital berarti, hanya dalam 14 tahun Wang Chuanfu mampu mengibarkan diri jadi orang terkaya di Cina. Apa yang membuatnya dikagumi sebagai kombinasi Thomas Edison dan Jack Welch sehingga seorang...

Who's The Star | Kamis, 21 Januari 2010

Marni: Pengrajin Sulam Usus Lampung

Manusia berhak mengubah nasib masing-masing. Jalan menyulam dipilih Marni Nazarudin (39) pada 2005 dan mengantarkan dirinya menjadi perajin sulaman usus, kerajinan kain khas Lampung, yang terbilang su...

Who's The Star | Senin, 18 Januari 2010

feed image